H-5 Muktamar ke-35 NU, Gus Salam Optimistis Raih 60 Pemilik Suara
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur pada 27-31 Agustus 2026, tinggal hitungan hari. Calon ketua umum (Caketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam optimisme meraih dukungan lebih 60 dari total pemilik suara yang terdaftar sebagai peserta.
Optimisme itu, bukan tanpa dasar. Gus Salam mengaku telah melakukan konsolidasi secara masif dan terstruktur ke seluruh penjuru tanah air dalam beberapa bulan terakhir.
“Kami telah bersilaturrahim secara langsung, bertemu secara fisik dengan para fungsionaris di 30 PWNU, dan lebih dari 470 PCNU seluruh Indonesia,” ujar Gus Salam, Sabtu (22/8/2026).
Baca juga: Jelang Muktamar Ke-35 NU, Forum Ulama Nahdliyin Serukan Tolak 'Serangan Fajar'
Selain pertemuan fisik, Gus Salam juga menyebut komunikasi intensif terus berjalan. Gus Salam bersama timnya membangun komunikasi dengan semua fungsionaris PWNU, PCNU, dan PCINU. “Komunikasi itu kami lakukan baik dalam forum-forum tertentu maupun secara personal. Intinya, semua yang telah kami temui dan komunikasikan saat ini sudah masuk dalam Daftar Peserta Tetap atau DPT Muktamar ke-35 NU,” jelasnya.Berdasarkan data DPT, jumlah total PWNU, PCNU, dan PCINU yang berhak memiliki suara di Muktamar 35 adalah 556 lembaga. Angka ini menjadi basis perhitungan tim Gus Salam dalam memetakan dukungan. “Dari hasil silaturahmi dan komunikasi itu, kami optimistis bisa meraih dukungan di atas 60 dari pemilik suara," tegasnya.
Lihat video: Satu Abad NU, PBNU Gelar Puncak Harlah di Istora Senayan
Gus Salam menyebut ada 3 alasan utama yang membuatnya optimistis meraih dukungan mayoritas. Pertama; gagasan rekonsiliasi total dan menghidupkan kembali ruh perjuangan pendiri NU.“Gagasan rekonsiliasi total dan menghidupkan kembali ruh perjuangan pendiri NU' mendapat apresiasi yang luar biasa dari PWNU, PCNU dan PCI NU. Ini yang membangkitkan semangat khidmah mereka lagi ditengah melemahnya kepercayaan terhadap PBNU,” katanya.
Menurut Gus Salam, warga NU di daerah rindu kepemimpinan yang mempersatukan, bukan memecah. Gagasan rekonsiliasi dianggap sebagai jalan kembali ke khittah dan nilai dasar NU.
Kedua, Gus Salam dipandang sebagai calon yang merepresentasikan pesantren dan figur pemimpin muda yang visioner. Pemikiran itu dituangkannya dalam buku “Menjaga Langit Pesantren, Dari Tradisi Menuju Peradaban”.“Artikel yang saya tulis dan kegiatan saya, baik ngaji, silaturahmi, sowan maupun di forum pertemuan yang diunggah di platform media sosial, menjadi perhatian mereka. Mereka mencermati visi saya tentang transformasi NU dan masa depan pesantren melalui media. Yang kami inginkan adalah PBNU ke depan yang membumi dan berwibawa. Dekat dengan pesantren, dekat dengan warga, dan kuat secara kelembagaan,” tambahnya.
Ketiga, ikhtiar yang dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan dari fungsionaris NU, peserta Muktamar, baik di Indonesia maupun di luar negeri berangkat dari perintah guru-kiainya serta keprihatinannya terhadap kondisi PBNU yang diterpa konflik; menyebabkan NU secara kelembagaan, melemah.
“ini amanat guru. Saya bertekad berjuang hingga tuntas di Muktamar ke-35 NU. Tidak lain untuk mewujudkan perintah Guru-Kyai saya, KH Nurul Huda Djazuli," tegas Gus Salam.
Di tengah optimisme meraih dukungan mayoritas, Gus Salam juga menyampaikan harapan besar agar Muktamar 35 berlangsung dengan baik. “Saya berharap muktamar berlangsung sejuk, teduh, mencerminkan kedaulatan NU, independen, dan tidak dikotori dengan perilaku yang tidak berakhlaq,” katanya.
Gus Salam merinci perilaku yang harus dihindari bersama adalah money politics, intimidasi, manipulasi, dan intervensi dari para pihak. “Mari kita jaga marwah Muktamar. Ini rumah kita bersama. Biarlah warga NU yang diwakili para peserta muktamar nanti, yang menentukan,” imbaunya.
Muktamar ke-35 NU akan menjadi momentum penting untuk memilih kepengurusan PBNU masa khdimat 2026-2031. Hingga saat ini, sejumlah nama telah mengemuka sebagai calon Ketua Umum PBNU. Salah satunya, Gus Salam yang dikenal intensif menyapa fungsionaris NU se-Indonesia, bahkan PCINU di luar negeri.










