Kisah Valerie Audrey Hiejaya, Bocah Bekasi Juara Kompetisi Bahasa Inggris dan Sains di Malaysia

Kisah Valerie Audrey Hiejaya, Bocah Bekasi Juara Kompetisi Bahasa Inggris dan Sains di Malaysia

Nasional | sindonews | Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:10
share

Bocah asal Bekasi Valerie Audrey Hiejaya meraih prestasi dalam Junior-Senior English Olympics (JEO-SEO) yang berlangsung di Asia Pacific University of Technology & Innovation (APU), Kuala Lumpur, Malaysia. Dia berhasil menyabet Gold Award sekaligus Diamond Award dalam kompetisi tersebut.

Dia juga meraih Silver Award di bidang Science (Sains) dalam International Science Competition Olympiad (ISCO) yang diselenggarakan oleh UniCEP di APU. Bagaimana kisahnya?

Baca juga: Ryu Kintaro: Prestasi Bocah 9 Tahun di Kancah Wirausaha Asia Tenggara

Kompetisi telah menjadi bagian dari perjalanan belajarnya sejak usia 6 tahun. Berawal dari rasa ingin tahu untuk mencoba hal-hal baru, Valerie perlahan memasuki dunia kompetisi akademik yang kemudian mempertemukannya dengan pelajar dari berbagai negara.

Pengalaman siswa kelas 3 di Kinderfield–Highfield School Bekasi ini telah berkembang menjadi perjalanan yang cukup panjang. Valerie telah memperoleh puluhan penghargaan dari berbagai kompetisi internasional dalam bidang Mathematics, English, Science, dan Digital Technology, sekaligus tetap mengembangkan minatnya di bidang musik.Perjalanan menuju pencapaian tersebut sebenarnya telah dimulai sejak dirinya duduk di kelas 1. Mathematics dan English menjadi bidang yang lebih dahulu memperkenalkan Valerie pada kompetisi. Dari sana, dia mulai mengenal berbagai bentuk soal, pola kompetisi, serta pengalaman berhadapan dengan peserta yang datang dari latar belakang berbeda.

Ketertarikannya pada Mathematics, English dan Science kemudian membawanya ke berbagai kompetisi internasional. Valerie telah mengikuti Philippine International Mathematical Olympiad (PhIMO) dari Filipina, Japan International Science and Mathematics Olympiad (JISMO) dari Jepang, hingga Hong Kong International Mathematical Olympiad (HKIMO) yang berbasis di Hong Kong dengan peserta internasional yang luas. Pada Heat Round 2025 tercatat lebih dari 21.000 peserta dari berbagai negara dan wilayah.

Kini, menginjak usia 8 tahun, ruang eksplorasi Valerie pun semakin luas. Dia kemudian mengikuti School Connect Olympiad (SCO) yang berbasis di India, ASIAROPE Olympiad yang mempertemukan peserta dari berbagai negara di kawasan Asia dan Eropa, sampai ADEPT Competition yang dikembangkan oleh tim pendidik dari Australia, Hong Kong dan Macau.

Di tengah perjalanan akademiknya, Valerie juga mengembangkan minatnya di bidang musik dengan bermain piano, hingga membawanya mengikuti sejumlah kompetisi. Hingga saat ini, perjalanan tersebut telah menghasilkan berbagai penghargaan, mulai dari Outstanding, Gold, Silver, Bronze hingga Honorable Mention.

Bagi keluarga, penghargaan bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah proses yang terjadi di baliknya, bagaimana Valerie belajar mempersiapkan diri, menghadapi rasa gugup, menerima hasil, memahami bahwa tidak setiap kompetisi berakhir dengan kemenangan, kemudian kembali mencoba pada kesempatan berikutnya.“Valerie punya kemauan yang tinggi untuk belajar. Saya rasa itu yang membuat perjalanan akademiknya tidak menjadi sesuatu yang menakutkan baginya, tetapi justru menjadi arena bermain dan bereksplorasi. Kami tidak ingin setiap kompetisi hanya dilihat dari hasil akhirnya,” ujar Lydia Fransisca, ibunda Valerie, Sabtu (15/8/2026).

"Bagi Valerie, setiap kesempatan adalah pengalaman baru untuk mencoba, mengetahui sejauhmana kemampuannya, dan belajar dari apa yang sudah dilakukannya. Ketika hasilnya baik, tentu kami bersyukur dan menghargainya. Tetapi ketika hasilnya belum sesuai harapan, kami juga belajar bersama bahwa itu adalah bagian dari proses,” katanya.

Menurut Lydia, yang juga penting adalah menjaga agar rasa ingin tahu Valerie tetap tumbuh di tengah berbagai aktivitas yang dijalaninya. Kompetisi tidak ditempatkan sebagai beban atau kewajiban, melainkan sebagai salah satu cara bagi Valerie untuk menemukan hal-hal yang dia sukai dan terus mengembangkan dirinya.

“Kami berusaha agar Valerie tetap menikmati proses belajarnya. Ia boleh mencoba, boleh merasa penasaran, boleh gagal, dan boleh mencoba lagi. Yang kami harapkan ia tumbuh menjadi anak yang berani mencoba sesuatu yang baru, mampu menikmati proses, dan tidak mudah berhenti ketika menghadapi kesulitan,” kata Lydia.

Topik Menarik