Perang Dagang Berkah bagi Indonesia, Batam Rebut Relokasi Pabrik dari China
Perang dagang Amerika Serikat (AS)-China mendorong Batam, Kepulauan Riau masuk dalam peta manufaktur global sebagai lokasi alternatif produksi. Sejumlah perusahaan mulai memindahkan atau mendiversifikasi produksi dari China ke Batam karena tertarik pada tenaga kerja muda, insentif pajak serta kedekatan dengan Singapura sebagai pusat pelayaran.
"Kami tidak punya pilihan selain melakukan diversifikasi. Jika tetap berada di China, kami berisiko kehilangan pesanan," ujar General Manager Welson Andy Yao saat meninjau spesifikasi akhir pabrik perusahaan di Batam dikutip dari Bloomberg, Sabtu (8/8/2026).
Baca Juga:AS-China Saling Balas Sanksi Jelang Pertemuan Trump dan Xi Jinping
Produsen mainan asal China, Dongguan Welson Plastic Hardware Products Co, yang memiliki pelanggan seperti Walt Disney Co dan Crayola LLC, pada Juli membuka pabrik pertamanya di luar China melalui PT Welson Group Indonesia. Pabrik tersebut akan memproduksi lebih dari 30 jenis suvenir untuk toko oleh-oleh taman hiburan Disney, termasuk wadah popcorn berbentuk kereta labu Cinderella serta figur Olaf dari Frozen dan Sulley dari Monsters, Inc.
Welson awalnya tidak memasukkan Batam dalam daftar tujuan investasi. Namun setelah meninjau Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam, perusahaan itu memilih Batam karena hanya berjarak sekitar 40 menit perjalanan feri dari Singapura, sehingga memudahkan pengiriman barang dan kunjungan pelanggan untuk melakukan audit.Selain itu, lebih dari separuh penduduk Batam berusia di bawah 30 tahun. Welson berencana mempekerjakan 300 pekerja pada tahap awal dan meningkatkan jumlahnya menjadi 600 orang hingga akhir 2027.Status Batam sebagai kawasan perdagangan bebas juga menjadi daya tarik utama bagi investor. Perusahaan memperoleh fasilitas pembebasan pajak atas impor bahan baku dan mesin, sementara produk jadi yang diekspor tidak dikenai bea keluar.
Ekonomi Tumbuh 6,8
Sejak masa jabatan pertama Presiden AS Donald Trump pada 2017, ekspor Batam meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar USD19,6 miliar pada 2025. Pertumbuhan ekonomi Batam juga melampaui rata-rata nasional. Pada 2025, ekonomi Batam tumbuh 6,8 dibandingkan pertumbuhan Indonesia sebesar 5,1, sedangkan pada kuartal I 2026 ekonomi Batam tumbuh 5,8, sedikit lebih tinggi daripada pertumbuhan nasional sebesar 5,6.
Direktur Energi, Iklim, dan Sumber Daya BowerGroupAsia Indonesia Mardika Parama mengatakan Batam memiliki keunggulan lain berupa pasokan listrik yang sebagian besar berasal dari gas alam. Lebih dari 80 listrik di pulau tersebut berasal dari gas, sehingga lebih rendah emisi dibandingkan pasokan listrik berbasis batu bara yang dominan di Jawa dan sejumlah wilayah Indonesia lainnya.
Baca Juga:Trump Getok Tarif Impor Baru ke 60 Negara, Sekutu di Asia Protes KerasMinimnya risiko bencana alam karena Batam tidak berada di kawasan Cincin Api Pasifik, serta keberadaan sejumlah kawasan ekonomi khusus, turut memperkuat daya saing pulau tersebut. Dalam 12 bulan terakhir, Apple membangun pabrik AirTag yang disebut memproduksi sekitar 70 persen pasokan global, sementara Oracle dan Gaw Capital Advisors berinvestasi di sektor pusat data.
Firmus Technologies juga menyatakan akan membangun pusat data berkapasitas 360 megawatt di Batam melalui kerja sama dengan perusahaan cip AS Nvidia. Untuk mendukung arus investasi, Kementerian Investasi membentuk kantor permanen di Batam, sementara Presiden Prabowo Subianto mengarahkan percepatan pengembangan pelabuhan internasional guna menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing ekspor.
"Alat pemasaran Batam yang paling kuat adalah pengalaman perusahaan-perusahaan yang sudah beroperasi di sana. Jika investor benar-benar memperoleh manfaat dari pembangunan fasilitas atau pengadaan melalui Batam, mereka akan menyampaikannya. Dalam jaringan investasi global, informasi seperti itu menyebar dengan cepat," kata Mardika.









