Harga Minyak Mendidih 1 saat Houthi Blokade Arab Saudi, Bakal Tembus USD100 per Barel?
Pasar minyak mentah dunia kembali berada di persimpangan jalan yang menegangkan. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 1 pada penutupan perdagangan Senin waktu Amerika Serikat (AS) setelah terombang-ambing dalam volatilitas tinggi.
Investor saat ini tengah menimbang antara munculnya secercah harapan negosiasi damai AS-Iran dengan ancaman baru yang tak kalah mengerikan, yakni blokade maritim terhadap Arab Saudi oleh milisi Houthi. Konflik di Timur Tengah terus membara setelah AS melancarkan serangan udara berturut-turut ke wilayah Iran.
Sementara sekutu AS seperti Kuwait dan Bahrain melaporkan gelombang serangan balasan dari Tehran. Kondisi ini memicu lompatan harga komoditas utama global. Baca Juga: Matikan Selat Hormuz! AS dan Irak Deal Bangun Jalur Pipa Minyak Senilai Rp1.074 triliun
Minyak Brent ditutup menguat USD1,12 atau setara 1,3 ke level USD89,22 per barel, setelah sempat menyentuh USD91,42 per barel atau posisi tertinggi sejak 11 Juni. Sedangkan minyak WTI AS terangkat 74 sen (0,9) ke posisi USD83,23 per barel, setelah sempat menembus angka USD85,39.
Proposal Gencatan Senjata 10 Hari di Tengah Ancaman Blokade Houthi
Di tengah dentuman bom, jalur diplomasi rahasia mendadak terbuka. Seorang pejabat senior Iran membocorkan kepada Reuters bahwa para mediator telah menyampaikan proposal deeskalasi kepada Tehran.Proposal ini menyarankan gencatan senjata selama 10 hari guna menghidupkan kembali kesepakatan damai sementara yang sempat runtuh. Namun di saat harapan damai berhembus, kelompok Houthi di Yaman -yang disokong Iran- secara mengejutkan mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.Langkah ini membuka front pertempuran baru yang mengancam jalur pasokan energi dunia di luar Teluk Persia. Baca Juga: Dolar AS Makin Ganas di Tengah Perang, Harga Minyak Tembus USD90 per Barel
"Jika gencatan senjata gagal terwujud dan Selat Hormuz tetap tertutup saat ancaman Houthi di Laut Merah menghebat, risiko lonjakan harga minyak secara drastis akan sangat nyata," peringat Jorge León, Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy yang menyebut sekitar 2,5 juta barel per hari pasokan minyak Arab Saudi kini berada di zona bahaya.
Selat Hormuz Makin Mencekam: Kapal Tanker Meledak dan Dirudal
Kondisi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz -rute laut yang biasanya melayani 20 kebutuhan minyak dunia- berada di titik terendah. Data LSEG menunjukkan hanya 4 kapal yang berani melintasi Selat Hormuz pada hari Minggu, merosot tajam dari 8 kapal pada hari sebelumnya.Eskalasi di lapangan makin tidak terkendali, dimana perusahaan pelayaran Yunani, Dynacom Tankers melaporkan dua kapal tankernya dihantam proyektil misterius saat berlayar di lepas pantai Oman. Selain itu Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim dua kapal tanker "meledak" dan lumpuh total setelah mencoba mengambil rute selatan yang dianggap tidak aman di Selat Hormuz.
Stok 'Minyak Mengapung' Capai Rekor 1,35 Miliar Barel
Di tengah bayang-bayang kelangkaan, ada satu faktor unik yang menahan agar harga minyak tidak meroket secara ekstrem. Analis dari Kpler mencatat adanya rekor jumlah minyak mentah yang saat ini "terjebak" atau mengapung di atas kapal tanker di laut lepas, yang diperkirakan mencapai 1,35 miliar barel.Stok minyak melimpah di lautan ini menjadi jaring pengaman sementara (buffer) yang mencegah kepanikan harga minyak melonjak ke angka tiga digit. Namun, analis dari ANZ memperingatkan bahwa selama volume transit Selat Hormuz tertahan di angka satu digit, pemulihan rantai pasok global akan tetap lumpuh.
Akankah proposal gencatan senjata 10 hari berhasil meredam konflik AS-Iran, atau justru blokade Houthi akan mendorong harga minyak melampaui USD100 per barel?.










