Prediksi Ngeri Goldman Sachs: Harga Minyak Brent Bakal Meroket ke USD120 per Barel
Raksasa perbankan Wall Street, Goldman Sachs merilis peringatan terbaru bagi pasar finansial global. Harga minyak mentah dunia jenis Brent diproyeksikan bisa meroket liar hingga melampaui USD120 per barel pada kuartal keempat 2026 jika gangguan lalu lintas kapal di Selat Hormuz terus berlanjut tanpa kepastian.
Kepanikan pasar energi kembali tereskalasi sepanjang bulan ini setelah konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Situasi kian diperparah oleh ancaman kelompok milisi Houthi di Yaman yang berniat memblokade pengiriman minyak dari Arab Saudi melalui jalur Laut Merah.
Baca Juga: Ramalan Goldman Sachs: Harga Emas Bakal Sentuh USD4.900 di 2026
Padahal, rute Laut Merah selama ini menjadi jalur alternatif paling krusial untuk mengalirkan kargo minyak mentah Teluk Persia yang terdampak perang menuju para konsumen global.
Proyeksi Skenario Normal vs Terburuk
Dalam laporan riset tertanggal 20 Juli, tim analis Goldman Sachs yang dipimpin oleh Daan Struyven memaparkan bahwa eskalasi di Timur Tengah telah memangkas estimasi aliran minyak Teluk Persia hingga di bawah 45 dari level sebelum perang.Meski demikian, angka USD120 per barel bukanlah skenario dasar (base case) utama dari bank investasi tersebut. Goldman Sachs masih memprediksi harga minyak akan melandai jika de-eskalasi berhasil diwujudkan."Konflik di Timur Tengah dan penurunan estimasi aliran minyak Teluk Persia hingga di bawah 45 dari level pra-perang telah mendorong harga minyak kembali naik. Walau skenario dasar kami menempatkan Brent di USD80 per barel pada kuartal IV dan USD75 pada tahun depan dengan asumsi de-eskalasi, risiko terhadap proyeksi ini sangat condong ke arah atas (tilted to the upside)," tulis Struyven.
Stok Menipis di Tengah Melambatnya Permintaan China
Goldman Sachs mencatat bahwa penurunan persediaan minyak global (inventories) pada kuartal kedua membuat pasar energi makin rentan terhadap kejutan pasokan (supply shock). Namun ada dua faktor penyeimbang yang berpotensi menahan agar kenaikan harga tidak terlalu ekstrem.Baca Juga: Harga Minyak Mendidih 1 saat Houthi Blokade Arab Saudi, Bakal Tembus USD100 per Barel?
Pertama yakni penurunan impor China, dimana anjloknya volume impor minyak mentah oleh raksasa ekonomi Asia. Lalu elastisitas permintaan saat respons konsumen global yang cenderung menekan konsumsi BBM saat harga mulai tak terjangkau.
Saat ini, minyak Brent berjangka tertahan di level USD88,65 per barel. Sebagai catatan historis, harga Brent sempat melonjak rekor hingga melebihi USD126 per barel pada akhir April lalu saat fase awal perang AS-Iran pecah.
Strategi Lindung Nilai (Hedging) untuk Investor
Bagi para investor yang ingin melindungi portofolio mereka dari guncangan geopolitik yang berkepanjangan -baik dari konflik Timur Tengah maupun serangan Ukraina ke kilang-kilang minyak Rusia- Goldman Sachs merekomendasikan strategi khusus.Analis menyarankan, investor untuk mengambil posisi long pada timespread solar/diesel Eropa untuk periode Desember 2026 hingga Maret 2027."Pasar solar sudah sangat ketat sebelum perang. Di saat yang sama, Ukraina terus menggempur kilang minyak Rusia, ditambah risiko ekstra pada pasokan akibat badai gelombang musim panas, serta penundaan pemeliharaan pabrik," jelas laporan tersebut.
Mampukah diplomasi global meredam krisis di Selat Hormuz sebelum lonjakan USD120 per barel menghantam dompet konsumen?.










