Film Tanah Runtuh Karya Denny Siregar Soroti Konflik Poso dan Ikatan Keluarga

Film Tanah Runtuh Karya Denny Siregar Soroti Konflik Poso dan Ikatan Keluarga

Gaya Hidup | sindonews | Jum'at, 19 Juni 2026 - 11:10
share

Denny Siregar kembali menjadi sorotan publik lewat film terbarunya berjudul “Tanah Runtuh”. Film ini menceritakan tentang hubungan persaudaraan yang kental dan ikatan keluarga yang kuat serta kepedulian manusia terhadap sesama di tengah konflik dan permasalahan yang berkecamuk.

Satu hal yang cukup unik dalam film ini adalah latar belakang sejarah konflik Poso yang diangkat oleh Denny Siregar. Dalam film itu, ia menceritakan konflik antar umat beragama di sebuah daerah bernama Tanah Runtuh, dimana konflik tersebut ternyata diciptakan oleh orang luar yang sengaja membuat kekacauan di wilayah tersebut.

Di tengah konflik itu terdapat dua anak yang justru menjadi korban karena harus melihat konflik berdarah secara langsung. Apalagi, saat konflik berkecamuk mereka terpisah dengan sang ibu. Dua anak itu bernama Kai yang diperankan oleh Yoan Cocohamida dan Ringgo sebagai kakak Kai yang diperankan oleh Ridho Khaliq.

Kemudian, seorang polisi yang diutus dari Jakarta bernama Idham yang diperankan oleh Vino G Bastian datang untuk menyelesaikan permasalahan di sana. Ia kemudian bertemu dengan Kai dan Ringgo hingga akhirnya membantu mereka untuk mencari sang ibu bernama Emmy yang diperankan Sigi Wimala.

Hal itu seolah menjadi pesan tersendiri bagi penonton, apalagi di tengah kondisi konflik tidak ada yang mau menolong Kai dan Ringgo. Bahkan rekan dari Idham sendiri sempat mengusulkan agar kedua anak itu dikembalikan ke posko atau gereja karena tugas mereka yang lebih utama untuk meredakan konflik disana. Namun, Idham tetap bersikukuh untuk menolong keduanya dan berjanji untuk membantu mencari ibu merek. Adegan itulah yang ingin disampaikan oleh Denny kepada penonton.

Baca Juga : Kenny Austin Nikmati Peran Dokter Bagas di Tobat Jatuh Cinta, Akui Betah Main Komedi

“Jadi, saya ngelihat bahwa masyarakat kita tuh banyak tidak belajarnya dari banyak peristiwa sebelum-sebelumnya sehingga harus dihadirkan sebuah cerita yang berbicara tentang kebaikan di tengah permasalahan atau kekacauan yang terjadi,” kata Denny dalam konferensi pers di Epicentrum XXI Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Selain ingin menyajikan cerita dengan konflik yang terlihat nyata, salah satu alasan mengapa dirinya mengangkat latar sejarah dalam film “Tanah Runtuh” karena dirinya ingin sebuah peristiwa sejarah lebih diketahui dan diterima oleh masyarakat.

“Film yang sebenarnya berisi pesan yang sangat banyak. Cuma kita itu lagi, ah, belajar bagaimana men-treatment sebuah peristiwa-peristiwa sejarah, menjadi sebuah, ah, film yang bisa, ah, diterima oleh semua masyarakat Indonesia,” ucap dia.Terlebih, sebagai produser bisa melihat banyak sekali cerita dan peristiwa sejarah yang dimiliki Indonesia dan bisa diangkat menjadi latar sebuah film agar lebih diketahui dan dikenal oleh masyarakat melalui sesuatu yang tidak kaku.

Baca Juga : Bukan Hantu, 'Monster Pabrik Rambut' Sajikan Horor dari Dunia Kerja yang Melelahkan

“Dan sebenarnya Indonesia ini, menurut saya ya, sebagai seorang produser ketika saya membaca banyak cerita, itu kaya banget gitu dengan cerita begitu. Kita mau cerita apa nih? Ambon, Poso, Sampit, segala macam, kita punya banyak peristiwa. Tinggal ngambil angle dari mana aja,” tutur Denny.

Meski demikian, ia mengungkapkan banyak sekali tantangan saat menjadikan sebuah peristiwa sejarah menjadi latar film. Seperti anggaran produksi yang tidak sedikit dan resiko kerugian yang lebih bisa diminimalisir. Ha itu menurutnya yang menjadi alasan mengapa banyak produser atau rumah produksi tidak banyak mengangkat latar sejarah dalam film yang dibuat.

“Memang permasalahannya adalah tidak banyak produser atau production house yang mau mengambil model-model cerita kayak begini. Karena memang tidak gampang untuk penyajiannya di luar bahwa budget-nya juga tidak tidak murah dibandingkan kalau saya harus bikin film komedi-komedi atau horor-horor biasa yang sebenarnya secara sebagai seorang produser kan kita harus investasi, sebagai sebuah resiko itu lebih kecil daripada bikin film seperti Tanah Runtuh,” ungkap dia.

Apalagi, Denny sendiri sempat mengalami kendala saat memproduksi film Tanah Runtuh dengan latar belakang sejarah konflik di Poso. Tantangan itu adalah menyambungkan cerita masa lalu agar relevan dengan kondisi saat ini.

Topik Menarik