Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya

Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya

Global | sindonews | Minggu, 14 Juni 2026 - 01:10
share

Koridor perdagangan dan transportasi yang diusulkan olehTurki dan Arab Saudi menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat Israel, yang dilaporkan memandang inisiatif tersebut sebagai tantangan potensial bagi proyek konektivitas regional yang didukung oleh rezim pendudukan.

Turki dan Arab Saudi menandatangani dua nota kesepahaman untuk memperluas kerja sama di bidang logistik dan perkeretaapian karena kedua negara tersebut menjajaki rute darat baru yang menghubungkan Teluk Persia dengan Turki dan Eropa.

Baik Turki maupun Arab Saudi belum mengumumkan secara publik rincian akhir dari proyek koridor yang dilaporkan tersebut.

Koridor Dagang Ankara dan Riyadh Buat Israel Ketar-ketir, Ini 3 Pemicunya

1. Jalur Perdagangan ke Eropa Makin Mudah

Namun, menurut laporan yang diterbitkan oleh harian Israel Yedioth Ahronoth pada hari Sabtu, rute darat yang diusulkan akan menghubungkan negara-negara Arab ke Eropa melalui Suriah dan Yordania sebelum memasuki Turki, melewati wilayah yang diduduki Israel dan mengurangi ketergantungan pada infrastruktur Israel, termasuk pelabuhan Haifa.

Laporan tersebut mengatakan bahwa koridor tersebut dapat muncul sebagai pesaing Koridor Ekonomi India-Timur Tengah-Eropa (IMEC), sebuah inisiatif perdagangan utama yang didukung oleh Israel, Amerika Serikat, India, dan beberapa negara Arab.IMEC telah dipromosikan sebagai rute strategis yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan perdagangan antara Asia dan Eropa melalui wilayah yang diduduki oleh rezim Israel.

2. Peran Israel sebagai Pusat Transit Makin Tergeser

Para pejabat Israel yang dikutip oleh surat kabar tersebut dilaporkan memandang inisiatif Turki-Arab Saudi sebagai tantangan geopolitik dan ekonomi yang dapat mengurangi peran Israel sebagai pusat transit regional.

Media Israel mengatakan para pejabat sedang memantau perkembangan dengan cermat di tengah kekhawatiran bahwa jaringan transit alternatif dapat melemahkan pentingnya strategis IMEC dan infrastruktur transportasi Israel.

Perkembangan ini terjadi di tengah hubungan yang semakin tegang antara Ankara dan Tel Aviv, dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saling melontarkan tuduhan tajam di depan umum dalam beberapa hari terakhir.

3. Permusuhan Israel dan Turki Makin Meruncing

Para ahli hukum Turki mengirimkan berkas bukti kejahatan perang Israel ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Berbicara kepada para anggota parlemen di Ankara pada hari Rabu, Erdogan mengatakan serangan Israel terhadap Suriah dan Lebanon telah mencapai titik di mana serangan tersebut juga mengancam keamanan Turki.

Ia juga mencatat bahwa Israel berupaya untuk menggoyahkan kawasan Mediterania yang lebih luas, dengan mengatakan bahwa "agresi" Israel menimbulkan ancaman bagi seluruh dunia dan harus segera dihentikan.Erdogan lebih lanjut memperingatkan bahwa upaya untuk merusak kepentingan Turki atau Siprus Turki akan ditanggapi dengan "tanggapan yang jelas dan tegas."

Netanyahu menanggapi dengan tegas, mengatakan Erdogan adalah "orang terakhir yang dapat memberi ceramah kepada Israel tentang moralitas."

Perdana Menteri Israel mengklaim bahwa pemimpin Turki telah mendukung gerakan perlawanan Palestina Hamas, menindas lawan politik, dan menjalankan kebijakan melawan kelompok Kurdi, sementara mengklaim bahwa Israel akan terus "bertindak tegas" terhadap Iran dan sekutu regionalnya.

Pertukaran terbaru ini mencerminkan memburuknya hubungan Turki-Israel secara lebih luas sejak pecahnya perang regional yang melibatkan Gaza, Lebanon, Suriah, dan Iran.

Turki, anggota NATO, telah menangguhkan perdagangan dengan Israel dan telah muncul sebagai salah satu kritikus rezim yang paling vokal di panggung internasional.

Topik Menarik