Iran Tolak Gagasan Donald Trump Bertemu Mojtaba Khamenei
Teheran telah menolak gagasan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu langsung Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei ketika kedua negara sedang dalam fase gencatan senjata. Penolakan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Gagasan Trump itu disampaikan pada hari Rabu lalu kepada The New York Post. "Ya, saya ingin bertemu dengannya," kata Trump ketika ditanya tentang kemungkinan pertemuan dengan Mojtaba.
Baca Juga: Meski AS-Iran Musuh Bebuyutan, Trump Ingin Bertemu Mojtaba Khamenei
"Kita mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan," lanjut Trump.
Namun, Araghchi meremehkan peluang pertemuan tersebut dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi Lebanon, Al Mayadeen. Menurutnya, gagasan Trump itu tidak realistis.
"Saya melihat sebuah laporan yang tampaknya mengatakan bahwa dia (Trump) telah menyatakan bahwa dirinya siap untuk bertemu atau bahwa dia ingin mengadakan pertemuan," kata Araghchi."Saya pikir kita harus realistis dan berpikir serta hidup di dunia nyata," ujarnya, yang dilansir Roya News, Sabtu (6/6/2026).Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat melalui mediator sejauh ini gagal menghasilkan solusi permanen untuk mengakhiri konflik tersebut.
Laporan CNN, yang mengutip pejabat Amerika, menyebutkan bahwa Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner bertemu dengan tim ahli teknis di laboratorium nasional di Tennessee pada hari Kamis.
Sedangkan Axios melaporkan bahwa Gedung Putih sedang berupaya mencapai nota kesepahaman dengan Iran yang bertujuan untuk memperpanjang gencatan senjata dan memulai pembicaraan terperinci tentang program nuklir Teheran.
Menurut para pejabat yang dikutip media tersebut, Washington telah menerima sinyal positif dari para negosiator Iran, meskipun perpecahan internal di Iran dapat mempersulit kemajuan menuju kesepakatan yang lebih luas."Kedua pihak masih berselisih mengenai beberapa detail, dan masih belum jelas apakah kesepakatan akan tercapai," tulis Axios dalam laporannya.
Sementara itu, militer AS kembali membombardir Pulau Qeshm, Iran, pada Jumat tengah malam atau Sabtu (6/6/2026) dini hari. Serangan terbaru ini, yang semakin memanaskan permusuhan kedua negara, diluncurkan tak lama setelah Teheran meluncurkan beberapa drone ke Selat Hormuz yang ditembak jatuh pasukan Amerika. "Pasukan Amerika mencegat empat drone serang satu arah Iran yang diluncurkan menuju Selat Hormuz," kata Komando Pusat AS atau CENTCOM, yang mengeklaim drone-drone tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional.
“Pasukan AS kemudian menyerang situs radar pengawasan pantai Iran di Goruk dan di Pulau Qeshm untuk bertahan dari serangan lebih lanjut,” lanjut CENTCOM, yang dikutip dari akun X-nya. "Pasukan Amerika tetap siap untuk menanggapi agresi Iran yang tidak beralasan untuk membela diri," imbuh CENTCOM.
Pulau Qeshm terletak di Selat Hormuz di lepas pantai selatan Iran, dekat pintu masuk Teluk Persia. Pengiriman melalui jalur maritim minyak dan gas yang penting ini secara efektif telah diblokir Iran sejak serangan AS-Israel, di mana Teheran mengancam kapal-kapal yang terkait dengan AS dan Israel.
Sebaliknya, Amerika juga memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz, di mana pasukan Washington kerap menargetkan kapal-kapal pengiriman yang terkait dengan Iran.
Iran belum segera berkomentar atau membalas serangan AS terbaru di Pulau Qeshm, yang sebelumnya telah menjadi sasaran dalam baku tembak terpisah awal pekan ini.









