Penasihat Militer Mojtaba Khamenei: Iran Siap Ubah Israel Jadi Neraka Jika Beirut Diinvasi
Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Mohsen Rezaei, mengancam akan mengubah wilayah utara Israel menjadi "neraka" jika militer Zionis nekat menginvasi selatan Beirut, Lebanon.
Rezaei, mantan panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan pangkat terakhir mayor jenderal, mengatakan pasukan Iran siap telah menunggu momen tersebut.
Baca Juga: Presiden Lebanon Kecam Hizbullah, Iran, dan IRGC: Ini Bukan Negaramu, Ini Negara Kami!
Rezaei, berbicara tentang persiapan militer Iran selama perang baru-baru ini dengan Amerika Serikat dan Israel, menyampaikan pernyataan tersebut pada saat ketegangan meningkat di front Lebanon.
“Yang harus kami lakukan hanyalah menunggu musuh bergerak menuju pinggiran selatan. Semua rudal kami siap, dan kami akan mengubah perang 40 hari di utara wilayah pendudukan menjadi neraka bagi Israel berkali-kali lipat,” kata Rezaei, yang dilansir Middle East Monitor, Sabtu (6/6/2026).Komentarnya menunjukkan bahwa Iran telah menyiapkan rencana militer yang ekstensif untuk menanggapi setiap kemajuan Israel ke pinggiran selatan Beirut, benteng utama kelompok Hizbullah Lebanon, salah satu sekutu regional utama Teheran.Sementara itu, pada saat yang bersamaan, Presiden Lebanon Joseph Aoun melontarkan salah satu kecaman paling tajamnya terhadap Hizbullah, Iran, dan IRGC pada hari Jumat. Dia tak terima Teheran dan proksinya ikut campur urusan internal Lebanon.
“Ini bukan negaramu, ini negara kami," kata Aoun. “Bukan tugas Anda untuk ikut campur di negara kami,” lanjut Aoun selama wawancara dengan CNN di istana kepresidenan.
Aoun juga menuduh Teheran menggunakan Lebanon sebagai “alat tawar-menawar” dalam negosiasinya dengan Amerika Serikat (AS)."Ini tidak dapat diterima," kesalnya.
Selama wawancara tersebut, Aoun mengecam Hizbullah dan sekretaris jenderalnya, Naim Qassem. “Rakyat Lebanon bukanlah rakyat Anda,” katanya.
IRGC: Jalur Pelayaran yang Stabil Melalui Selat Hormuz akan Terjamin setelah Ancaman AS Dinetralkan
Dia menambahkan bahwa Hizbullah harus memahami bahwa tidak ada jalan keluar lain dari perang melawan Israel sekarang ini selain duduk dan berbicara untuk menyelamatkan apa yang tersisa dari Lebanon.Aoun telah berulang kali berusaha menjauhkan Lebanon dari konflik regional dan mengatakan bahwa keputusan mengenai kedaulatan dan keamanan negara harus dibuat oleh negara Lebanon sendiri.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam pada hari Jumat mendesak Iran untuk berhenti memperlakukan negaranya, tempat Israel dan Hizbullah yang didukung Teheran berperang, sebagai “alat tawar-menawar” dalam negosiasinya dengan Washington tentang konflik Timur Tengah.
“Jika saya boleh menyampaikan sepatah kata kepada Iran, yaitu: kasihanilah wilayah selatan kami, berhentilah memperlakukannya dan rakyatnya hanya sebagai alat tawar-menawar untuk memperbaiki persyaratan negosiasi Anda,” kata Salam dalam konferensi pers tentang permohonan bantuan PBB untuk Lebanon.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem menolak proposal kesepakatan gencatan senjata Israel dan Lebanon yang dimediasi Washington. Menurutnya, itu sebagai upaya "tidak tahu malu" untuk memaksa Lebanon menyerah.
"Itu sama dengan peta jalan untuk memusnahkan sebagian rakyat Lebanon," kata Qassem.Dia mengatakan Hizbullah tidak akan meninggalkan Lebanon selatan selama pasukan Israel tetap berada di dalam negeri, dan memperingatkan bahwa Israel utara juga akan tetap terancam selama Lebanon dibom.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan di Oval Office pada hari Kamis bahwa dia telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. "Dan sebenarnya juga berbicara dengan Hizbullah tentang hal itu," ujarnya, menepis anggapan bahwa Hizbullah menolak inisiatif tersebut.
"Mereka tidak akan menolak saya, mereka tidak menolak," katanya, menegaskan bahwa "kemajuan" sedang dibuat antara Israel dan Lebanon. "Akan sangat bagus jika Lebanon bisa memiliki perdamaian. Lebanon telah diserang selama bertahun-tahun," imbuh dia.
Pertempuran terbaru ini terjadi setelah berminggu-minggu serangan dan operasi darat Israel di Lebanon, termasuk perebutan Kastil Beaufort, yang juga dikenal sebagai Qalaat al-Chakif. Benteng abad pertengahan ini, yang terletak di puncak bukit strategis di Lebanon selatan, sebelumnya digunakan oleh Israel selama pendudukan dua dekade di wilayah tersebut, yang berakhir pada tahun 2000.









