Negara Mayoritas Islam Ini Sangkal Jadi Markas Pasukan Elite Israel untuk Perang Melawan Iran

Negara Mayoritas Islam Ini Sangkal Jadi Markas Pasukan Elite Israel untuk Perang Melawan Iran

Global | sindonews | Sabtu, 6 Juni 2026 - 08:11
share

Azerbaijan, negara yang mayoritas penduduknya memeluk Islam, membantah laporan bahwa wilayahnya digunakan untuk operasi unit militer dan intelijen elite Israel untuk perang melawan Iran. Kementerian Luar Negeri-nya menggambarkan laporan tersebut sebagai "sama sekali tidak berdasar".

Bantahan ini disampaikan sebagai respons atas laporan CNN yang menyebut Israel mengerahkan pasukan militer dan intelijen elite selama perang melawan Iran. Menurut laporan yang mengutip empat sumber itu, selain Azerbaijan, Israel juga mengerahkan pasukan ke Irak, Uni Emirat Arab, dan Somaliland untuk misi yang sama.

Baca Juga: Terungkap, Israel Kerahkan Pasukan Elite ke Azerbaijan untuk Perang Melawan Iran

Kementerian Luar Negeri Azerbaijan mengkritik laporan tersebut karena mengandalkan sumber anonim tanpa menyajikan bukti yang kredibel dan mengatakan bahwa laporan itu mengabaikan tanggapan resmi Azerbaijan, sehingga melanggar prinsip objektivitas dan jurnalisme profesional.

“Seperti yang telah dinyatakan berkali-kali, tuduhan bahwa wilayah Azerbaijan telah digunakan oleh negara ketiga mana pun untuk operasi militer, kegiatan intelijen, atau tujuan permusuhan lainnya terhadap negara lain sama sekali tidak berdasar,” kata kementerian tersebut.

“Azerbaijan tidak pernah mengizinkan, dan tidak akan pernah mengizinkan, wilayahnya digunakan untuk tujuan tersebut,” imbuhnya, seperti dikutip Anadolu, Sabtu (6/6/2026).Kementerian tersebut menegaskan kembali bahwa Azerbaijan tetap berkomitmen untuk mempromosikan perdamaian, stabilitas regional, dan hubungan bertetangga yang baik, dan menggambarkan tuduhan tersebut sebagai upaya lain untuk menyebarkan disinformasi.

Ketegangan regional meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari, memicu siklus serangan balasan yang memperluas ketidakstabilan di seluruh wilayah.

Sebagai balasan, Iran kemudian melancarkan serangan terhadap Israel dan menargetkan negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, sekaligus mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur penting untuk pasokan energi global.

Gencatan senjata kemudian diberlakukan, meskipun upaya diplomatik untuk mengamankan kesepakatan yang lebih luas terus berlanjut.

Sekadar diketahui, Israel dan Azerbaijan mempertahankan hubungan erat seputar kepentingan komersial dan militer. Baku memasok sebagian besar minyak Israel. Sebagai imbalannya, Israel menjual persenjataan canggih kepada Azerbaijan, beberapa di antaranya digunakan dalam konflik Nagorno-Karabakh pada tahun 2016 dan 2020 melawan Armenia. Azerbaijan juga merupakan negara asing pertama yang membeli sistem pertahanan udara Iron Dome Israel pada tahun 2016.“Strategi Israel di Azerbaijan tetap sengaja tidak menonjol, mengandalkan transfer senjata, kerja sama intelijen, dan saling ketergantungan teknologi jangka panjang di sektor keamanan,” tulis Gershon Kogan, seorang spesialis Iran di Begin-Sadat Center for Strategic Studies, sebelum perang Iran dimulai.

Hubungan ini juga memberi Azerbaijan akses ke sumber daya diplomatik yang penting, menurut Joshua Kucera, seorang analis senior untuk Crisis Group, yang memungkinkan Baku untuk memanfaatkan lobi Israel di Washington, DC.

“Azerbaijan semakin berusaha memposisikan dirinya sebagai kekuatan regional, dan itu termasuk menjadi semacam jembatan antara Israel dan negara-negara Arab dan negara-negara lain,” kata Kucera.

“Jika Israel adalah alat untuk membantu Azerbaijan memerangi upaya destabilisasi IRGC, itu sangat rahasia,” kata Kucera.

Topik Menarik