Fakta Mengejutkan! Keluarga Miskin Lebih Banyak Beli Rokok daripada Lauk-Pauk

Fakta Mengejutkan! Keluarga Miskin Lebih Banyak Beli Rokok daripada Lauk-Pauk

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 1 Juni 2026 - 07:24
share

Pengeluaran untuk rokok masih menjadi salah satu pengeluaran terbesar dalam beberapa rumah tangga di Indonesia. Bahkan, menurut pegiat perlindungan konsumen yang sekaligus Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi, alokasi dana untuk membeli rokok pada keluarga miskin lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk lauk-pauk yang menjadi sumber protein harian.

Pengeluaran rokok ternyata masih menjadi prioritas utama bagi banyak keluarga miskin di Indonesia. Bahkan, dana yang dialokasikan untuk membeli rokok disebut jauh lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk lauk-pauk yang merupakan sumber protein penting bagi pertumbuhan anak dan pencegahan stunting.

Temuan tersebut oleh Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi dalam refleksi Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang diperingati setiap 31 Mei. Menurutnya, kondisi ini menjadi salah satu ironi persoalan tembakau di Indonesia yang berdampak tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga pola konsumsi keluarga.

Baca Juga : Studi: Setiap Batang Rokok Memperpendek Hidup hingga 20 Menit

Tulus mengungkapkan, rumah tangga miskin di Indonesia mengalokasikan sekitar 10 hingga 11 persen pendapatannya untuk membeli rokok. Sementara itu, pengeluaran untuk membeli lauk-pauk hanya sekitar 3,5 persen dari total pendapatan keluarga.Padahal, lauk-pauk merupakan salah satu sumber protein hewani maupun nabati yang penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

“Rumah tangga miskin di Indonesia justru mengalokasikan untuk membeli rokok kisaran 10-11 persen dari total incomenya. Sementara untuk membeli lauk-pauk hanya 3,5 persen saja,” ujar Tulus.

Menurutnya, fenomena ini menjadi salah satu alasan mengapa masalah gizi termasuk stunting, masih menjadi tantangan di Indonesia. Ketika kebutuhan pangan bergizi kalah prioritas dibandingkan pembelian rokok, kualitas asupan keluarga berpotensi menurun.

Baca Juga : Bahaya Merokok setelah Makan, Ahli: Tubuh Sulit Menyerap Gizi

Ia menilai konsumsi rokok yang tinggi juga berisiko memperpanjang lingkaran masalah kesehatan dan kemiskinan dalam rumah tangga. Pasalnya, selain mengurangi alokasi belanja pangan, kebiasaan merokok juga berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit tidak menular.Dalam kesempatan itu, Tulus juga membahas soal tingginya prevalensi penyakit katastropik seperti penyakit jantung koroner, stroke, kanker, dan diabetes melitus yang terus membebani sistem kesehatan nasional. Di mana berdasarkan data BPJS Kesehatan 2025, biaya pengobatan untuk penyakit katastropik mencapai Rp55,5 triliun.

Jumlah ini mencapai 26,7 persen dari total anggaran pelayanan kesehatan BPJS Kesehatan. Selain itu, hasil program cek kesehatan yang telah diikuti lebih dari 101 juta peserta juga menunjukkan sekitar 14 juta orang terdeteksi berisiko mengalami diabetes melitus dan sekitar 13 juta orang terdeteksi mengalami hipertensi.

Di mana faktor gaya hidup menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka penyakit tersebut. Termasuk kebiasaan merokok yang masih banyak ditemukan di masyarakat.

Topik Menarik