STF Driyarkara Rayakan Dies Natalis ke-57, Angkat Kontribusi Romo Magnis bagi Indonesia
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (STFD) menggelar Dies Natalis ke-57 dengan tema “Magnis untuk Indonesia”, sebuah rangkaian kegiatan akademik, kebudayaan, dan refleksi publik yang sekaligus menjadi perayaan ulang tahun ke-90 Romo Franz Magnis-Suseno, SJ.
Puncak seluruh rangkaian kegiatan akan berlangsung pada 26 Mei 2026 melalui Perayaan Ekaristi di Katedral Jakarta dan dilanjutkan dengan ramah tamah bersama para alumni, akademisi, tokoh lintas agama, mahasiswa, serta sahabat STF Driyarkara.
Baca juga: Dies Natalis ke-70 Universitas Sanata Dharma, Rektor: Maju Berjalan Menuju Terang
Kompleks Gereja Katedral dipilih sebagai tempat Malam Penutup Dies Natalis STFD karena secara simbolis selaras dengan tiga sumbangan pemikiran Rm. Magnis yang diangkat menjadi elaborasi tematik Dies Natalis.
Pertama, kontribusi Magnis di bidang etika, sosial politik Indonesia. Pemikiran Magnis sebagai filsuf yang banyak merefleksikan etika dan keberadaannya sebagai rohaniwan katolik jesuit memberikan nuansa khas bagi keterlibatannya di bidang sosial-politik di Indonesia. Di satu sisi, Dies Natalis meneropong realitas dan tantangan bidang sosial politik di Indonesia hari ini dan di sisi lain, menggali pemikiran Rm. Magnis di bidang tersebut melalui filsafat politik dan etika yang dikembangkannya.
Baca juga: FH UNEJ Rayakan Dies Natalis ke-61, Soroti Implementasi UUD 1945 dan Arah Pembangunan Nasional
Graha Pemuda di kompleks Katedral menjadi simbol dari pemikiran Rm. Magnis di bidang etika dan filsafat politik serta simbol dari keterlibatan beliau di dinamika sosial-politik di Indonesia. Grha Pemuda semula bernama Gedung Katholieke Jongelingenbond (Gedung Pemuda Katolik). Gedung tersebut turut berperan di dalam proses Sumpah Pemuda karena menjadi tempat sidang pertama Kongres Pemuda II pada 27 Oktober 1928.
Grha Pemuda juga menjadi simbol keterlibatan Magnis bagi formasi intelektual filsafat di STFD bagi para pemuda/i yang menjadi mahasiswa di sekolah tersebut. Magnis juga turut berperan pada pendirian STFD. Sampai hari ini, dia masih terlibat aktif di dalam dinamika kampus.
UI Nonaktifkan Status Akademik 16 Mahasiswa FHUI Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di Grup Chat
Kedua, kontribusi Magnis di bidang teologi. Sebagai rohaniwan jesuit, Magnis juga aktif menuliskan refleksi di bidang teologi dan kehidupan menggereja. Selain itu, selama bertahun-tahun ia menjadi pengampu mata kuliah Filsafat Ketuhanan di STFD. Karena itu, Dies Natalis ini menggali kontribusi khas Magnis di bidang teologi dan eklesiologi Gereja Indonesia pasca Vatican II. Gereja Katedral menjadi simbol yang tepat bagi kontribusi Magnis di bidang teologi dan eklesiologi. Misa syukur Dies Natalis akan dirayakan di Gereja Katedral Jakarta yang telah berusia 125 tahun, dihitung dari pemberkatannya pada 21 April 1901. Gereja Katedral menjadi saksi panjangnya kehadiran kekatolikan di Indonesia.
Misa syukur akan dipimpin oleh Kardinal Ignatius Suharyo yang sekaligus adalah Ketua Pembina Yayasan STF Driyarkara didampingi oleh pimpinan ordo OFM, Pastor Agustinus Laurentius Nggame, OFM dan pimpinan ordo Serikat Jesus, Pastor Benedictus Hari Juliawan, SJ.
Ketiga lembaga keagamaan Katolik ini, yakni Ordo Serikat Jesus (Jesuit), Ordo OFM (Fransiskan) dan Keuskupan Agung Jakarta lah yang mendirikan STFD 57 tahun yang lalu.
Ketiga, kontribusi Magnis di bidang dialog antarumat beragama. Masyarakat Indonesia ditandai oleh berbagai keragaman, termasuk salah satunya keragaman agama dan kepercayaan. Karena itu, Dies Natalis merefleksikan nilai penting dan tantangan dialog antarumat beragama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Dies Natalis menggali pemikiran-pemikiran filosofis Magnis dan keterlibatan aktif dia dalam berbagai forum lintas-agama sebagai sumbangan berarti bagi kemajuan dialog antarumat beragama. Terowongan silaturahmi di kompleks Katedral menjadi simbol penting yang menandai dialog antar umat beragama. Terowongan bawah tanah tersebut menghubungkan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal.
Pada kunjungan apostoliknya ke Indonesia pada 2025, Paus Fransiskus telah mengunjungi terowongan ini dan menandatangani plakat pesan Terowongan Silaturahmi. Paus Fransiskus juga bertemu dan berdialog dengan Imam Besar Masjid Istiqlal. Momen historis tersebut semakin memperkuat makna simbolis Terowongan Silaturahmi bagi perayaan Dies Natalis STFD.
Perayaan ini menjadi momentum untuk merefleksikan kembali kontribusi Magnis bagi Indonesia, terutama dalam bidang filsafat, etika politik, demokrasi, hubungan antaragama, pendidikan, dan kemanusiaan.
Selama lebih dari setengah abad, Magnis dikenal sebagai salah satu intelektual publik yang konsisten menyuarakan nilai-nilai etis, dialog, dan keberpihakan pada martabat manusia sekaligus ikut mendirikan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini.










