Perang Iran Bikin Harga Diesel Mahal: Truk Listrik Mulai Jadi Rebutan!

Perang Iran Bikin Harga Diesel Mahal: Truk Listrik Mulai Jadi Rebutan!

Otomotif | sindonews | Senin, 11 Mei 2026 - 10:59
share

Perang di Iran yang meletus 28 Februari 2026 mengubah peta logistik dunia dalam sekejap. Harga eceran diesel di China melonjak 27, menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Dampaknya nyata: pengusaha truk tidak lagi melirik solar, mereka berbondong-bondong pindah ke listrik.

Truk berat energi baru kini bukan lagi produk sampingan. Pada kuartal pertama 2026, penjualannya tumbuh 45 secara tahunan menjadi 44.000 unit. Angka ini mencakup lebih dari seperempat total pasar truk berat, naik tajam dibanding tahun lalu yang masih di bawah 20.

Tren ini sulit dibendung dengan alasan-alasan dibawah:

•⁠ ⁠Efisiensi Biaya: Biaya seumur hidup (lifetime cost) truk listrik untuk jarak 1.000.000 KM hanya separuh dari truk diesel. •⁠ ⁠Konsumsi Solar: Permintaan diesel di China diprediksi turun 4,3 hingga 5 tahun ini, atau berkurang sekitar 40.000 barel per hari.•⁠ ⁠Teknologi: Jika dulu jarak tempuh hanya 300 KM, kini pemain seperti Sany mulai memasarkan truk dengan jangkauan hingga 600 KM.

Min Ji, analis senior di S&P Global Mobility, menegaskan: "Perang telah mendongkrak harga bahan bakar domestik, yang secara tak terelakkan mempercepat penggantian truk tradisional."

Perbandingan Harga: Investasi vs Operasional

Mari kita lihat perbandingan antara truk EV dan diesel. Di China, harga truk berat listrik berada di kisaran 500.000 Yuan (sekitar Rp1.271.550.000), sementara versi diesel jauh lebih murah di angka 300.000 Yuan (sekitar Rp762.930.000).Selisih harga sebesar Rp508.620.000 memang terlihat besar di awal. Namun, dengan program subsidi tukar tambah (trade-in) yang diperpanjang hingga akhir 2026 dan biaya energi yang sangat murah, modal tersebut akan kembali jauh lebih cepat. Inilah yang memicu ledakan ekspor truk listrik China ke Eropa dengan harga 33 lebih murah dari rata-rata pasar lokal di sana.

Bagaimana dengan Indonesia?

 

Indonesia tidak mau hanya jadi penonton. Presiden Prabowo Subianto belum lama ini baru saja meresmikan fasilitas perakitan PT VKTR Sakti Industries di Magelang dengan kapasitas 10.000 unit.

Berikut adalah target strategis Indonesia:

TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri): Saat ini 40, target 60 dalam dua tahun, dan 80 pada empat tahun ke depan.

Produksi Massal: Target produksi besar-besaran mulai tahun 2028.Infrastruktur: Hingga Februari 2026, sudah tersedia 4.892 unit SPKLU di seluruh Indonesia.

Ketua Umum Aptrindo, Gemilang Tarigan, melihat ini sebagai peluang emas peremajaan. "Sebanyak 65 armada truk nasional berusia di atas 20 tahun. Penggunaan truk listrik adalah kunci untuk melakukan peremajaan total pada 9,4 juta unit truk yang selama ini bergantung pada BBM," ungkapnya.

Tantangan Nyata: Manusia dan Regulasi

Teknologi sudah siap, tapi ekosistem belum tentu. Pengamat Yannes Martinus Pasaribu dari ITB mengingatkan adanya "lubang" dalam transformasi ini.

•⁠ ⁠Perilaku Sopir: Truk listrik adalah mesin canggih. Kebiasaan sopir memindahkan gigi ke posisi netral di turunan untuk irit BBM justru mematikan fitur engine brake yang vital pada truk listrik.•⁠ ⁠Bobot Baterai: Baterai untuk jarak jauh bisa mencapai berat 12 ton. Jika regulasi berat kendaraan tidak diubah, truk listrik bisa langsung dianggap melanggar hukum karena melebihi kapasitas beban jalan (ODOL).

Meski begitu, optimisme tetap tinggi. Sany memprediksi pasar truk traktor listrik akan tumbuh 50 menjadi 250.000 unit pada 2025. "Melihat kenaikan harga minyak, peluang mencapai target ini semakin besar," kata Chen Dong, Deputi General Manager Sany. Indonesia kini berada di persimpangan. Dengan harga baterai yang diprediksi anjlok dalam 5 tahun ke depan dan munculnya model bisnis sewa baterai, truk listrik bisa jadi tren masa depan.

Topik Menarik