Iran Respons Proposal AS untuk Akhiri Perang, Begini Tanggapan Trump

Iran Respons Proposal AS untuk Akhiri Perang, Begini Tanggapan Trump

Terkini | inews | Senin, 11 Mei 2026 - 07:38
share

TEHERAN, iNews.id - Iran merespons proposal Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang pada Minggu (10/5/2026). Penyampaian jawaban tersebut dikirim melalui mediator Pakistan, menurut kantor berita negara Iran, IRNA.

Melansir Al Jazeera, tahap pertama negosiasi akan fokus pada pengakhiran permusuhan, serta memastikan keamanan maritim di Teluk dan Selat Hormuz.

Iran menyebut, tanggapan mereka juga mencakup negosiasi mengenai Selat Hormuz, program nuklir, dan pencabutan sanksi.

"Tanggapan kami berfokus pada pengakhiran perang di seluruh wilayah, terutama di Lebanon, dan menyelesaikan perbedaan dengan Washington," kata seorang sumber resmi Iran dikutip, Senin (11/5/2026).

Sumber tersebut mengklaim bahwa respons Teheran terhadap proposal AS realistis dan positif, serta berharap proses negosiasi dipercepat.

Namun dalam pernyataan pertamanya sejak perkembangan tersebut, Presiden AS Donald Trump pada menuduh Iran bermain-main.

Iran telah mempermainkan Amerika Serikat, dan seluruh dunia, selama 47 tahun. Mereka tidak akan tertawa lagi!" tulis Trump melalui akun Truth Social.

Dua jam kemudian, Trump menyampaikan pernyataan di platform yang sama, di mana dia tegas menolak proposal AS tersebut.

“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut 'Perwakilan Iran'. Saya tidak menyukainya, sama sekali tidak dapat diterima!" kata Trump.

Sebelumnya, Washington mengirimkan proposal berisi 14 poin kepada Teheran awal pekan ini. Berdasarkan persyaratan tersebut, Iran harus setuju untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dan menghentikan semua pengayaan uranium setidaknya selama 12 tahun. 

Kemudian, Iran juga diharuskan menyerahkan perkiraan stok uranium yang diperkaya hingga 60 persen sebanyak 440 kilogram (kg).

Sebagai imbalannya, AS akan secara bertahap mencabut sanksi, melepaskan aset Iran senilai miliaran dolar yang dibekukan, dan menghentikan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.

Perkembangan ini terjadi hanya seminggu sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan mengunjungi China, yang merupakan salah satu importir minyak Iran terbesar dan memiliki kepentingan strategis di sana.

Topik Menarik