UEA Hengkang dari OPEC, Harga Minyak Dunia Tembus USD115 per Barel
Harga minyak mentah melesat pada perdagangan Rabu, dengan Brent kontrak pengiriman Juni naik 3,5 ke USD115,13 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 3,7 menjadi USD103,69 per barel. Reli tersebut merupakan sesi kenaikan kedelapan berturut-turut dan telah mengerek harga minyak lebih dari 49 sejak operasi gabungan AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
Kenaikan harga ditopang oleh blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang memasuki bulan kedua, serta langkah balasan Iran menutup Selat Hormuz bagi pelayaran asing. Iran mengusulkan pembukaan kembali jalur air strategis itu dengan syarat AS mencabut blokade dan menghentikan permusuhan, namun Presiden Trump menolak usulan tersebut akhir pekan lalu. Kegagalan negosiasi ini membuat Iran kembali mengajukan proposal revisi kepada Pakistan pada Minggu (27/4).
Di tengah kebuntuan diplomasi, Citigroup menaikkan proyeksi harga Brent untuk kuartal II-2026 menjadi USD110 per barel. Dalam skenario terburuk dengan kemungkinan 30 persen harga dapat mencapai rata-rata USD130 pada kuartal II dan III jika gangguan berlanjut hingga Juni, bahkan berpotensi menyentuh USD150 per barel.
Baca Juga:Krisis Selat Hormuz: Arena Baru AS-China Rebutan Energi Masa Depan
Dari sisi pasokan, kejutan datang dari Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa (28/4) mengumumkan hengkang dari OPEC dan aliansi OPEC+ efektif 1 Mei, mengakhiri keanggotaan hampir 60 tahun di kartel minyak tersebut. UEA, produsen terbesar ketiga OPEC dengan kapasitas 3,2 juta barel per hari (bph) mengatakan keputusan ini mencerminkan visi strategis ekonomi jangka panjang dan profil energi yang terus berkembang.
Dikutip dari NPR, kepergian UEA membuat OPEC kehilangan satu dari hanya dua anggota bersama Arab Saudi, yang memiliki kapasitas produksi cadangan berarti, yang sebelumnya mencapai lebih dari 4 juta bph. UEA telah mengisyaratkan rencana menambah produksi sekitar 30 persen atau 1 juta barel tambahan per hari begitu bebas dari kuota OPEC.
Baca Juga:Pentagon Akui Tak Mampu Lawan Rudal Hipersonik Rusia dan China
Sementara, data American Petroleum Institute (API) untuk pekan yang berakhir 17 April menunjukkan stok minyak mentah AS turun 4,4 juta barel jauh di atas perkiraan penurunan hanya 1 juta barel. Laporan API pekan yang berakhir 24 April kembali menunjukkan penyusutan stok sebesar 1,79 juta barel membalik perkiraan analis yang sebelumnya memprediksi sedikit kenaikan.
Dampak kenaikan tersebut mulai dirasakan konsumen AS. Data AAA menunjukkan harga bensin eceran di AS mencapai USD4,18 per galon pada Selasa (28/4) level tertinggi dalam empat tahun, naik 7 sen dalam sehari. Secara akumulasi, harga di pompa bensin telah melonjak USD1,19 sejak akhir Februari lalu, menjadi pukulan terbaru bagi rumah tangga di tengah inflasi yang masih tinggi.










