Krisis Selat Hormuz: Arena Baru AS-China Rebutan Energi Masa Depan
etegangan di kawasan Teluk Persia antara Amerika Serikat (AS) dan Iran diprediksi akan mengubah wajah pasar energi global secara permanen dalam jangka panjang. Di balik krisis Selat Hormuz, dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, AS dan China, kini tengah terlibat dalam persaingan sengit untuk mendominasi arsitektur energi masa depan.
"Di AS, agenda dominasi energi sangat bergantung pada pasar energi fosil dan mencoba memanfaatkan kekayaan tersebut secara politik," ujar Direktur Willy Brandt School of Public Policy, Andreas Goldthau dikutip dari DW, Rabu (29/4/2026).
Baca Juga:Pentagon Akui Tak Mampu Lawan Rudal Hipersonik Rusia dan China
Menurut Goldthau, strategi Washington di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump bertujuan memperpanjang usia penggunaan bahan bakar fosil selama mungkin. Melalui slogan "Drill, baby, drill", AS gencar menggenjot produksi minyak dan gas dalam negeri untuk dijadikan instrumen kebijakan luar negeri sekaligus memperkuat pengaruh ekonomi terhadap negara mitra.
Data Gedung Putih mengklaim, AS kini memproduksi minyak lebih besar dari gabungan produksi Arab Saudi dan Rusia. Berkat revolusi fracking, AS bertransformasi dari importir terbesar menjadi eksportir gas global utama, yang kini digunakan sebagai posisi tawar (leverage) dalam negosiasi tarif dagang dengan Eropa hingga Asia.Berseberangan dengan AS, China secara konsisten mengubah citranya dari emisi karbon tertinggi menjadi pemimpin revolusi energi elektrik dunia. Beijing menerapkan strategi kepemimpinan global melalui produksi panel surya, baterai penyimpanan, hingga kendaraan listrik secara masif sebagai bagian dari keamanan ekonomi nasional.
Penguasaan China terhadap rantai pasok teknologi bersih kini mencapai angka yang dominan, yakni mengontrol sekitar 80 rantai pasok fotovoltaik global. Bahkan pada paruh pertama 2025, China berhasil memasang kapasitas tenaga surya yang lebih besar dibandingkan total instalasi seluruh negara lain di dunia jika digabungkan.
Di sektor otomotif, McKinsey mencatat sekitar 60 hingga 70 mobil listrik dunia diproduksi di China. Melimpahnya pasokan akibat melambatnya ekonomi domestik mendorong China untuk melakukan ekspor besar-besaran ke pasar Eropa, semakin memperkokoh pengaruh teknologi hijau Negeri Tirai Bambu tersebut di kancah internasional.
Sektor energi angin pun tak luput dari dominasi China dengan penguasaan pasar turbin baru mencapai 72 pada 2025. Dari sepuluh produsen turbin angin terkemuka di dunia, delapan di antaranya merupakan perusahaan asal China seperti Goldwind dan Envision, yang membuktikan keberhasilan program 'Made in China'.Baca Juga:UEA Keluar dari OPEC, Guncang Pasar Energi Global
Pakar energi dari Eurasia Group, Henning Gloystein, menilai AS mencoba membendung laju tersebut dengan mengikat negara-negara mitra melalui kontrak gas alam cair (LNG) jangka panjang. Washington menawarkan tarif rendah bagi negara-negara seperti Jepang, Thailand, dan India asalkan mereka berkomitmen menggunakan energi fosil AS hingga puluhan tahun ke depan.
Langkah AS yang mengerem transisi energi terbarukan demi percepatan bahan bakar fosil ini dinilai sebagai upaya menciptakan ketergantungan energi sistemik. Strategi ini tidak hanya menyasar pasar, tetapi juga upaya mengendalikan aset energi di negara-negara kaya sumber daya yang tengah berkonflik.
Sementara itu, sektor energi bersih telah menyumbang lebih dari sepertiga total pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China pada 2025. Pertumbuhan ekspor teknologi hijau China yang meningkat empat kali lipat sejak 2020 menunjukkan ketergantungan dunia terhadap produk hilir China kini mencakup komponen penting seperti logam tanah jarang dan elektroliser.
Menanggapi itu, Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengingatkan bahwa keamanan energi di abad ke-21 tidak hanya soal ketersediaan minyak dan gas. Ia menekankan pentingnya diversifikasi rantai pasok teknologi bersih agar dunia tidak terjebak dalam satu dominasi kekuatan di tengah transisi energi global.










