Kurangi Batu Bara, Intip Rencana Besar Pengembangan Biomassa di RI
JAKARTA - Rantai pasok biomassa berbasis masyarakat diperluas. Hal ini sekaligus mendukung kebijakan nasional dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang mendorong peningkatan bauran energi terbarukan dan pengurangan emisi karbon secara bertahap.
Sekretaris Perusahaan PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Mamit Setiawan menjelaskan, biomassa memiliki peran strategis dalam program co-firing PLTU, yakni substitusi sebagian batu bara dengan bahan bakar berbasis biomassa untuk menekan emisi karbon tanpa perlu membangun pembangkit baru secara masif.
"Dari sisi PLN Group, program ini mencerminkan sinergi antara induk usaha dan subholding dalam membangun model transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan," kata Mamit di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Pengembangan biomassa ini dilakukan PLN EPI bersama PT PLN (Persero) dalam pelatihan pengelolaan biomassa melalui pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dilaksanakan pada 28-30 April 2026.
Sebanyak 15 peserta yang terdiri dari Kelompok Tani, BUMDes, dan Kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKM) binaan PLN EPI dari berbagai daerah yang tersebar di Lombok Timur, Tasikmalaya, Cilacap dan Gunung Kidul mengikuti pelatihan pengenalan potensi biomassa, teknologi pengolahan, praktik produksi, hingga pengembangan model bisnis yang berorientasi pasar.
Mamit menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari pendekatan sistematis perusahaan dalam memastikan keberlanjutan pasokan biomassa sebagai energi alternatif.
"Kami mendorong masyarakat tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai bagian dari rantai pasok energi biomassa. Ini merupakan implementasi nyata ESG, khususnya dalam pemberdayaan masyarakat dan penguatan aspek lingkungan,” ujar Mamit.
Sementara, Senior Manager Komunikasi & Umum PLN UID Jawa Barat, Krisantus H Setyawan menyampaikan bahwa pemanfaatan biomassa tidak hanya berdampak pada pengurangan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan menjadi energi memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendorong ekonomi sirkular berbasis masyarakat,” ujarnya.
Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB Zulfiadi menekankan bahwa biomassa memiliki keunggulan sebagai energi terbarukan dengan siklus karbon yang lebih berkelanjutan dibandingkan energi fosil.
“Biomassa memungkinkan siklus karbon yang lebih cepat dan terkontrol, sehingga menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim,” jelasnya.
Lebih jauh, dia menilai pengembangan biomassa berbasis masyarakat juga membuka peluang transformasi ekonomi daerah. “Ke depan, daerah tidak hanya menjadi konsumen energi, tetapi juga produsen energi berbasis biomassa yang mendukung kebutuhan nasional,” ujarnya.
PLN EPI menghadirkan beberapa pemateri dari BRIN Puspitek Serpong, ITB dan Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI) untuk memastikan peserta dibekali pengetahuan yang cukup terkait proses produksi Biomassa. Melalui pendekatan pelatihan yang komprehensif, Program ini mendorong terbentuknya unit usaha biomassa berbasis desa yang profesional dan terstandarisasi sebagai bagian dari ekosistem energi nasional.
Rismayadi, perwakilan Kelompok Tani Jaga Lembur Tani Makmur, menyampaikan bahwa program ini membuka peluang pengembangan usaha biomassa berbasis masyarakat.
“Saya optimistis melalui pelatihan ini, limbah pertanian dan perkebunan dapat dimanfaatkan secara optimal menjadi sumber energi yang bernilai, sekaligus meningkatkan perekonomian kelompok tani di Desa Bojongkapol, Tasikmalaya,” ujarnya.
Dengan inisiatif ini, PLN EPI tidak hanya memperkuat aspek lingkungan melalui pengurangan emisi, tetapi juga aspek sosial melalui pemberdayaan masyarakat, serta aspek tata kelola melalui pembangunan rantai pasok biomassa yang terstruktur dan berkelanjutan.
Program ini sekaligus mencerminkan perubahan paradigma dalam transisi energi nasional, di mana desa tidak lagi diposisikan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai mitra strategis dalam produksi energi bersih yang berkontribusi langsung terhadap ketahanan energi nasional.
Dengan menjadikan desa sebagai pusat produksi biomassa, PLN EPI menegaskan bahwa masa depan energi Indonesia dibangun dari kolaborasi, keberlanjutan, dan pemberdayaan masyarakat.










