Tekanan Global Berlanjut, Rupiah Sengsara di Level Rp17.188
Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.188 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat, terdampak tekanan konflik Timur Tengah. Pelemahan ini mencerminkan tingginya sentimen eksternal yang membayangi pasar keuangan global.
"Menanggapi poin penting dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang Iran, yang telah menutup Selat Hormuz selama tujuh minggu dan mencekik sekitar seperlima pasokan minyak dunia, Trump mengatakan Teheran telah menawarkan untuk tidak memiliki senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun," ujar pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, Jumat (17/4/2026).
Baca Juga:Saling Ancam AS-Iran di Selat Hormuz, Rupiah Sentuh Level Terlemah Baru ke Rp17.127
Rupiah tercatat turun 50 poin atau sekitar 0,29 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Tekanan utama berasal dari dinamika geopolitik, termasuk konflik Iran yang berdampak pada pasokan energi global dan memicu volatilitas pasar.
Meski terdapat sinyal meredanya ketegangan melalui gencatan senjata sementara antara Lebanon dan Israel, serta rencana pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran, pelaku pasar masih berhati-hati. Negosiasi damai dinilai belum memberikan kepastian kuat untuk meredakan konflik secara menyeluruh.Dari sisi global, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan klaim pengangguran awal turun menjadi 207 ribu, mengindikasikan pasar tenaga kerja yang relatif stabil. Sementara itu, pejabat Federal Reserve menilai tekanan inflasi masih berpotensi meningkat akibat konflik geopolitik, sehingga kebijakan moneter ketat diperkirakan tetap bertahan.
Di dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid dengan inflasi terjaga, konsumsi rumah tangga yang kuat, serta neraca perdagangan yang tetap mencatatkan surplus. Sektor komoditas juga masih menjadi penopang di tengah tekanan eksternal.
Baca Juga:Iran Bidik Kapal Induk dan Seluruh Kapal Perang AS: Kami Akan Tenggelamkan Semuanya!
Namun, eskalasi konflik Iran mendorong harga minyak dunia melonjak hingga sempat menembus 118 dolar AS per barel, melampaui asumsi makro dalam APBN. Kondisi ini meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi, meski pemerintah berkomitmen menjaga harga bahan bakar bersubsidi untuk menahan inflasi.
Adapun rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan potensi melemah pada kisaran Rp17.180 hingga Rp17.220 per dolar AS dalam jangka pendek, seiring ketidakpastian global yang masih tinggi.







