Masih di Jalur Pelemahan Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup di Rp17.188 per USD
IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat (17/4/2026). Mata uang Garuda melemah 50 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.188 per USD.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel belum mampu menjadi katalis positif bagi pergerakan mata uang.
"Begitu juga dengan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan Washington dan Iran mungkin akan bertemu untuk melakukan pembicaraan pada akhir pekan," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Dari segi data, klaim pengangguran awal AS turun menjadi 207 ribu untuk pekan yang berakhir pada 11 April, di bawah perkiraan 215 ribu, dan di bawah angka pekan sebelumnya yaitu 218 ribu.
Meskipun demikian, data ketenagakerjaan dan The Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) baru-baru ini menunjukkan periode perekrutan dan PHK yang rendah.
Sementara itu, Para pejabat Federal Reserve memperkuat jalur kebijakan bank sentral saat ini. Presiden Fed New York, John Williams, mencatat konflik di Iran memberikan tekanan ke atas pada harga dan mengantisipasi peningkatan inflasi utama.
Dia juga berkomentar bahwa sikap kebijakan bank sentral saat ini telah tepat.
Dari internal, ekonomi Indonesia tampak mengawali 2026 dengan cukup meyakinkan. Inflasi terjaga dan dekat dengan target Bank Indonesia, konsumsi rumah tangga juga relatif cukup solid, bahkan ditopang kuat oleh momentum Ramadan dan Lebaran.
Neraca perdagangan juga masih mencatatkan surplus, sementara sektor komoditas dari batu bara hingga minyak kelapa sawit juga masih memberi bantalan terhadap tekanan global.
Namun, menginjak akhir kuartal I-2026 tekanan eksternal terjadi. Eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran membawa kenaikan harga minyak di atas asumsi makro yang jadi dasar perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Harga minyak Brent sempat menembus USD118 per barel pada beberapa pekan awal perang. Kini, perang telah berlangsung selama tujuh pekan, dan belum ada tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.
Walaupun harga minyak mentah naik namun, pemerintah berkomitmen tidak menyesuaikan harga bahan bakar bersubsidi. Transmisi ini yang dijaga pemerintah agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Sebab, jika tidak, inflasi akan semakin tak terbendung.
Sebelumnya, pemerintah pada bertemu dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor's (S&P) di AS, menekankan komitmen Indonesia dalam menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit APBN 2026 yang sebelumnya diperkirakan akan melebar ke kisaran 2,9 persen karena kenaikan harga minyak, bahkan diperkirakan bisa turun sedikit ke kisaran 2,8 persen terhadap PDB.
Meskipun angka itu masih lebih tinggi dari rancangan awal 2,68 persen. Namun, pemerintah konsisten untuk menjaga defisit di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Dari berbagai sentimen di atas, untuk Senin pekan depan, mata uang rupiah fluktuatif namun diproyeksi melemah pada rentang Rp17.180- Rp.17.220 per USD. Sedangkan range untuk sepekan diproyeksi melemah di level Rp17.150-Rp17.300 per USD.
(NIA DEVIYANA)






