Jelang Pengumuman Trump soal Iran, Transaksi Misterius Rp9,8 Triliun Guncang Pasar Minyak Dunia
Pasar energi global diguncang dugaan praktik perdagangan orang dalam (insider trading) setelah terdeteksi adanya posisi perdagangan senilai USD580 juta atau setara Rp9,8 triliun yang dibuka sesaat sebelum pengumuman kebijakan penting terkait Iran. Transaksi masif tersebut tercatat hanya 15 menit sebelum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengunggah pernyataan mengenai kemajuan perundingan dengan Teheran melalui media sosial.
"Insting saya setelah memantau pasar selama 25 tahun, aktivitas ini benar-benar tidak normal," ujar seorang manajer portofolio dari sebuah dana lindung nilai (hedge fund) terkemuka yang menyoroti ketepatan waktu transaksi tersebut.
Dikutip dari Times of India, aktivitas transaksi mencurigakan itu tercatat pada Senin pagi waktu setempat, di mana volume kontrak minyak mentah Brent dan WTI melonjak tajam tepat sebelum pukul 06.50. Tak lama berselang, pada pukul 07.04, Presiden Trump mengunggah pesan melalui platform Truth Social yang menyatakan adanya "perbincangan produktif" dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Baca Juga:Blokade Selat Hormuz Sandera Pasokan Energi Global, Negara-negara Asia Kembali ke Batu Bara
Pengumuman tersebut seketika memicu aksi jual luas di pasar energi, yang secara otomatis menguntungkan pihak-pihak yang telah mengambil posisi jual (short) sesaat sebelumnya. Selain pasar minyak, kontrak berjangka indeks S&P 500 dan bursa saham Eropa juga mengalami pergerakan signifikan karena investor mulai mengurangi ekspektasi terhadap risiko konflik berkepanjangan di Timur Tengah.Sejumlah analis pasar di broker AS menyatakan keheranannya atas agresivitas penjualan futures pada periode yang sangat tenang tanpa adanya data ekonomi penting. Pola transaksi yang sangat presisi ini dilaporkan telah memicu tingkat frustrasi yang tinggi di kalangan investor profesional karena dianggap mencederai asas keadilan pasar.
Menanggapi kecurigaan tersebut, Juru Bicara Gedung Putih Kush Desai menegaskan bahwa fokus utama Presiden Trump dan jajaran administrasinya hanyalah melakukan yang terbaik bagi rakyat Amerika Serikat. Ia membantah keras keterlibatan pejabat pemerintah dalam aktivitas ilegal yang mengambil keuntungan dari informasi orang dalam.
"Gedung Putih tidak mentoleransi pejabat yang secara ilegal mengambil untung dari pengetahuan internal. Implikasi bahwa pejabat terlibat tanpa bukti kuat adalah pelaporan yang tidak berdasar," tegas Desai dalam keterangan resminya.
Di sisi lain, Presiden Trump menunjukkan sikap yang fleksibel dengan menyatakan bahwa harga minyak akan jatuh seketika setelah kesepakatan tercapai. Namun, ia juga menekankan bahwa peluang kesepakatan tersebut bersifat dinamis dan tidak memberikan jaminan mutlak mengenai hasil akhirnya dalam beberapa pekan ke depan.Kondisi pasar kembali berbalik arah saat Ketua DPR Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, melalui unggahan di media sosial X secara tegas membantah klaim Washington mengenai adanya perundingan. Ghalibaf bahkan menuding pernyataan tersebut sebagai "berita palsu" yang sengaja digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak global.
Baca Juga:Mossad Gagal Gulingkan Rezim Iran, PM Israel Benjamin Netanyahu Frustrasi
Bantahan keras dari pihak Teheran tersebut seketika memicu minat beli baru di pasar energi dan menyebabkan indeks saham global kembali terkoreksi. Harga minyak mentah AS patokan WTI naik sebesar 3,55 dolar AS menjadi 91,68 dolar AS per barel, sementara Brent meroket 3,83 dolar AS ke posisi 103,77 dolar AS per barel.
Kepala Derivatif di Energy Aspects, Tim Skirrow, mengamati bahwa meskipun volume transaksi tersebut sangat besar untuk ukuran pagi hari, ia menilai pasar saat ini memang sedang berada dalam kondisi yang sangat sensitif. Reaksi harga yang tajam menunjukkan bahwa pasar sangat rentan terhadap setiap arus informasi terkait konflik Iran.
Ketidakpastian ini diperkirakan akan terus membayangi ekonomi Asia yang sangat bergantung pada stabilitas akses di Selat Hormuz. Selama ketegangan geopolitik belum mereda dan transparansi informasi pasar belum pulih, fluktuasi tajam pada harga komoditas energi dunia diprediksi akan terus berlanjut.










