Blokade Selat Hormuz Sandera Pasokan Energi Global, Negara-negara Asia Kembali ke Batu Bara
Perang Iran yang mengganggu jalur pengiriman energi global mendorong sejumlah negara di Asia kembali meningkatkan penggunaan batu bara sebagai sumber energi alternatif. Ketergantungan tinggi kawasan ini terhadap impor minyak dan gas membuat pasokan menjadi rentan terhadap gejolak geopolitik.
"Batu bara merupakan bagian integral dari rencana darurat energi Asia karena ketersediaannya yang luas dan dapat diandalkan saat pasokan energi lain terganggu," ujar pakar energi dari Universitas Duke, Sandeep Pai, dikutip dari AP, Rabu (25/3/2026).
Baca Juga:Selat Hormuz Lumpuh, Lalu Lintas Kapal Anjlok hingga 95
Medela Potentia (MDLA) Perkuat Distribusi Segmen Pet Care melalui Kolaborasi AAM-Compawnion
Asia selama ini bergantung pada impor energi yang sebagian besar melewati Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Ketegangan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan, khususnya gas alam cair (LNG) yang selama ini dipromosikan sebagai bahan bakar transisi yang lebih bersih dibanding batu bara.
Namun, terganggunya pasokan LNG akibat konflik membuat sejumlah negara mengambil langkah cepat dengan kembali mengandalkan batu bara. India meningkatkan pembakaran batu bara untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik saat musim panas, sementara Korea Selatan mencabut pembatasan produksi listrik dari batu bara. Indonesia juga memprioritaskan penggunaan batu bara domestik, diikuti Thailand, Filipina, dan Vietnam yang meningkatkan kapasitas pembangkit listrik berbasis batu bara.Langkah tersebut dinilai sebagai solusi jangka pendek untuk menjaga stabilitas energi. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa ketergantungan berkelanjutan terhadap batu bara dapat memperlambat transisi menuju energi bersih dan meningkatkan emisi gas rumah kaca.
China, sebagai konsumen dan produsen batu bara terbesar di dunia, telah membangun kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara dalam jumlah besar sejak 2021 guna memperkuat ketahanan energi. Sementara itu, India yang berada di posisi kedua juga meningkatkan ketergantungan pada batu bara untuk memenuhi kebutuhan listrik puncak yang diperkirakan mencapai 270 gigawatt.
Di sisi lain, kebijakan Indonesia yang memprioritaskan pasokan batu bara untuk kebutuhan domestik turut menambah tekanan di pasar regional. Kondisi ini berpotensi memperketat pasokan global dan mendorong kenaikan harga, terutama bagi negara-negara importir di Asia.
Baca Juga:AL Inggris Siap Pimpin Koalisi untuk Buka Lagi Selat HormuzData pasar menunjukkan harga batu bara acuan Asia, yakni Newcastle coal dari Australia, telah naik sekitar 13 persen sejak konflik dimulai. Kenaikan harga ini memperberat beban negara-negara Asia Tenggara yang merupakan konsumen batu bara terbesar ketiga di dunia.
Filipina bahkan telah menetapkan status darurat energi nasional sebagai respons terhadap potensi krisis pasokan. Sementara Vietnam menghadapi volatilitas pasokan akibat ketergantungan pada impor, termasuk dari Indonesia yang kini tidak pasti.
Selain risiko ekonomi, peningkatan penggunaan batu bara juga berdampak pada kesehatan dan lingkungan. Pembakaran batu bara menghasilkan partikel halus yang dapat masuk ke paru-paru dan aliran darah, meningkatkan risiko penyakit serius seperti stroke, kanker paru, dan gangguan pernapasan kronis.
Kondisi ini telah dirasakan di sejumlah negara Asia, termasuk India dan Vietnam yang mencatat tingkat polusi udara jauh di atas ambang batas aman. Seorang pemilik toko di Hanoi, Lan Nguyen, mengaku khawatir terhadap dampak kesehatan dari penggunaan batu bara, terutama bagi anaknya yang menderita asma. “Saya khawatir paru-paru anak saya setiap hari,” ujarnya.
Para ahli menilai krisis ini menjadi peringatan bagi negara-negara Asia untuk mempercepat diversifikasi energi dan memperkuat investasi pada energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil di masa depan.










