Iran Lumpuhkan Produksi Migas Israel, Qatar hingga Arab Saudi
Serangan balasan Iran terhadap sejumlah negara Teluk memicu gangguan serius pada produksi minyak dan gas di kawasan Timur Tengah. Sejumlah fasilitas energi di Qatar, Arab Saudi, Irak Kurdistan, hingga Israel dilaporkan menghentikan operasi migas sebagai langkah pencegahan.
"Serangan terhadap kilang Ras Tanura Arab Saudi menandai eskalasi signifikan, dengan infrastruktur energi Teluk kini menjadi sasaran utama Iran," kata Torbjorn Soltvedt, analis utama Timur Tengah di Verisk Maplecroft dikutip dari Reuters, Selasa (3/3/2026).
"Serangan ini juga kemungkinan akan mendorong Arab Saudi dan negara-negara Teluk tetangga lebih dekat untuk bergabung dalam operasi militer AS dan Israel melawan Iran."
Baca Juga:Iran Bakar Kilang Minyak Saudi Aramco, Pasokan Energi Global Terancam
Qatar menghentikan produksi gas alam cair (LNG) setelah serangan drone Iran menghantam fasilitas di kompleks Ras Laffan. QatarEnergy bahkan berencana menyatakan force majeure atas pengiriman LNG. Produksi LNG Qatar setara sekitar 20 pasokan global dan menjadi penopang utama pasar Asia dan Eropa, sehingga gangguan ini langsung memicu lonjakan harga gas.Harga gas alam Eropa, kontrak front-month Belanda di hub TTF, melonjak hingga 46. Sementara harga minyak dunia sempat naik intraday hingga 13 menembus USD82 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025, seiring terganggunya pengiriman melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak global.
Di Arab Saudi, kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco berkapasitas 550.000 barel per hari (bph) ditutup sementara sebagai langkah pencegahan setelah dua drone dicegat di area fasilitas. Otoritas setempat menyebut, kebakaran yang terjadi terbatas dan tidak menimbulkan korban jiwa, serta pasokan ke pasar domestik tetap aman.
Di Kurdistan Irak, sejumlah perusahaan seperti DNO, Gulf Keystone Petroleum, Dana Gas, dan HKN Energy menghentikan produksi ladang minyak sebagai langkah antisipatif. Wilayah tersebut sebelumnya mengekspor sekitar 200.000 barel per hari melalui pipa ke pelabuhan Ceyhan, Turki.
Baca Juga:Perang Meluas, Qatar Tembak Jatuh 2 Jet Tempur Su-24 Iran untuk Pertama KalinyaIsrael juga terdampak setelah pemerintah memerintahkan Chevron menutup sementara ladang gas Leviathan di lepas pantai Mediterania. Ladang tersebut tengah dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas hingga sekitar 21 miliar meter kubik per tahun sebagai bagian dari kontrak ekspor besar ke Mesir. Perusahaan Energean turut menghentikan operasional kapal produksinya di ladang gas yang lebih kecil.
Di sisi lain, Iran sebagai produsen terbesar ketiga di OPEC memompa sekitar 3,3 juta barel minyak mentah per hari, ditambah 1,3 juta barel kondensat dan cairan lainnya. Ledakan juga dilaporkan terdengar di Pulau Kharg yang menangani sekitar 90 ekspor minyak mentah Iran, meski dampak pastinya belum dapat dipastikan.
Eskalasi serangan terhadap infrastruktur energi ini meningkatkan kekhawatiran pasar atas stabilitas pasokan global. Sejumlah fasilitas utama di kawasan Teluk terganggu, pasar energi internasional menghadapi tekanan baru di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus berkembang.










