19 Macan Tutul Jawa Terekam di Bromo, Ada 2 Anakan yang Teridentifikasi

19 Macan Tutul Jawa Terekam di Bromo, Ada 2 Anakan yang Teridentifikasi

Terkini | okezone | Sabtu, 7 November 2026 - 03:55
share

JAKARTA - Keberadaan macan tutul jawa (Panthera pardus melas) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, berhasil diungkap melalui pemantauan menggunakan kamera pengintai. Sebanyak 19 individu satwa predator puncak tersebut teridentifikasi dari rekaman 160 kamera yang dipasang di sejumlah titik hutan.

Berdasarkan hasil analisis pada Agustus 2026, ke-19 individu tersebut terdiri atas tujuh jantan, 10 betina, dan dua anakan. Identifikasi dilakukan berdasarkan rekaman kamera pengintai yang dikumpulkan hingga Maret 2026.

Survei yang berlangsung sejak Januari 2024 hingga Agustus 2026 itu juga mencatat keberadaan macan tutul jawa di 46 stasiun kamera atau sekitar 58 persen dari seluruh titik pemantauan. Kemunculan satwa ini paling banyak terdeteksi di kawasan hutan yang relatif terjaga.

Penelitian tersebut merupakan bagian dari program Java-Wide Leopard Survey (JWLS) yang dijalankan Bakti BCA bersama Kementerian Kehutanan, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), dan Yayasan SINTAS Indonesia.

Field Coordinator JWLS Region Timur, Ummi Farikhah atau kerap disapa Ika mengatakan, survei tersebut tidak hanya mengidentifikasi macan tutul jawa, tetapi juga menemukan 46 jenis satwa lain di kawasan TNBTS. Sebanyak 26 jenis di antaranya berpotensi menjadi mangsa alami macan tutul.

"Ketersediaan rantai pakan alami ini menjadi harapan besar bagi kelangsungan hidup macan tutul jawa," kata Ika, Jumat (6/11/2026).

 

Untuk melengkapi hasil pemantauan, tim peneliti juga mengumpulkan 44 sampel kotoran atau scat macan tutul jawa untuk pemeriksaan DNA. Pengujian tersebut dilakukan guna memperoleh informasi lebih lanjut mengenai individu dan kondisi populasi satwa tersebut.

Meski menunjukkan kondisi ekosistem yang mendukung, keberadaan macan tutul jawa masih menghadapi sejumlah ancaman. Di antaranya fragmentasi habitat, penurunan keragaman genetik, serta potensi konflik antara satwa dan manusia.

Hasil awal Analisis Kesintasan Populasi atau Population Viability Analysis (PVA) menempatkan populasi macan tutul jawa di TNBTS dalam kategori risiko sedang. Analisis ini memproyeksikan kemampuan populasi tersebut untuk bertahan hingga 100 tahun mendatang.

Dengan kondisi tersebut, kelangsungan hidup macan tutul jawa masih memiliki peluang untuk dipertahankan. Namun, diperlukan pengelolaan habitat secara intensif dan upaya menjaga konektivitas antarkawasan hutan.

 

Ika menegaskan, perlindungan habitat dan pemantauan populasi secara berkala harus terus diperkuat. Selain itu, pengelola kawasan perlu meningkatkan kemampuan dalam menangani konflik antara manusia dan macan tutul jawa.

Pelibatan masyarakat di sekitar kawasan konservasi juga dinilai penting dalam mendukung upaya pelestarian. Salah satunya disampaikan warga Desa Penanggal, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, Handrawilie Romneya Liefdie.

Ia mengatakan, sebagian masyarakat merasa bangga karena macan tutul jawa masih ditemukan di kawasan hutan sekitar tempat tinggal mereka.

"Untuk itu, sosialisasi berkala dan pelibatan warga sangat penting agar masyarakat memahami perilaku satwa, menjaga batas ruang yang aman, serta bersama-sama menolak perburuan liar demi menjaga keharmonisan ekosistem," tuturnya.

Sebagai upaya memperkuat konservasi, JWLS juga menggelar pelatihan sejak 2024. Kegiatan tersebut mencakup teknik survei, pengelolaan kamera pengintai, hingga analisis data dengan melibatkan peneliti, petugas kawasan, dan komunitas lokal.

 

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan pelestarian macan tutul jawa harus dilakukan bersamaan dengan perlindungan ekosistem hutan secara menyeluruh.

"Sebagai predator puncak keberadaannya merupakan indikator vital bagi kesehatan hutan yang menjadi penyangga tata air dan keanekaragaman hayati. Melalui pilar Bakti Lingkungan, kami mendukung kajian ilmiah ini guna memastikan setiap langkah intervensi konservasi bertumpu pada data dan kondisi lapangan," kata Hera.

Temuan 19 individu macan tutul jawa di TNBTS menjadi salah satu gambaran kondisi populasi satwa endemik Pulau Jawa tersebut. Meski ketersediaan mangsa alami memberikan harapan, perlindungan habitat, pemantauan populasi, dan keterlibatan masyarakat tetap menjadi faktor penting untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Topik Menarik