Selangkah Lagi, Gadi Eisenkot Gantikan Netanyahu sebagai Perdana Menteri Israel

Selangkah Lagi, Gadi Eisenkot Gantikan Netanyahu sebagai Perdana Menteri Israel

Terkini | inews | Sabtu, 7 November 2026 - 03:03
share

TEL AVIV, iNews.id - Pemimpin oposisi Israel Gadi Eisenkot selangkah lagi menggantikan Benjamin Netanyahu sebagai perdana menteri. Eisenkot mengungkapkan negosiasi pembentukan pemerintahan darurat nasional telah mencapai kemajuan signifikan. Dia berharap mendapat mandat untuk membentuk pemerintahan baru pada awal pekan depan.

Peluang Eisenkot semakin terbuka setelah Presiden Israel Isaac Herzog mengumumkan akan menentukan anggota parlemen yang mendapat mandat membentuk pemerintahan pada Minggu (8/11/2026). Hasil konsultasi dengan berbagai partai menunjukkan, sebanyak 67 anggota parlemen merekomendasikan Eisenkot, sedangkan hanya 46 yang mendukung Netanyahu.

Eisenkot menegaskan Israel sedang menghadapi situasi darurat yang nyata, serius, dan berbahaya. Karena itu, dia mendesak agar peralihan kekuasaan segera dilakukan untuk mencegah Netanyahu terus bertahan di pemerintahan sebagai perdana menteri sementara.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform media sosial X pada Jumat (6/11/2026), pemimpin Partai Yashar tersebut menyebut 74 dari total 120 anggota Knesset (parlemen Israel) tidak lagi menyatakan kepercayaan terhadap kepemimpinan Netanyahu.

Sementara itu, hanya 46 anggota parlemen yang masih mendukung perdana menteri yang akan mengakhiri masa jabatannya tersebut.

Eisenkot mengungkapkan timnya telah menggelar puluhan jam perundingan dengan berbagai partai oposisi untuk membentuk koalisi pemerintahan darurat nasional. Dia mengklaim telah terjadi kemajuan signifikan serta sejumlah terobosan dalam negosiasi tersebut.

"Kami telah mencapai kemajuan signifikan dan sejumlah terobosan," demikian pernyataan Eisenkot.

Empat Prinsip Pemerintahan Baru Israel di Bawah Eisenkot

Eisenkot juga memaparkan empat prinsip utama yang akan menjadi landasan pemerintahan baru jika dirinya memperoleh mandat membentuk kabinet.

Pertama, mengakui Israel sebagai negara Yahudi dan demokratis. Kedua, menjunjung tinggi nilai-nilai Deklarasi Kemerdekaan Israel.

Ketiga, mewajibkan seluruh warga negara menjalani wajib militer, dinas nasional, atau pelayanan sipil. Keempat, mengakui Hamas sebagai organisasi teroris serta berkomitmen menghancurkan kemampuan militer dan pemerintahan kelompok tersebut.

Eisenkot menyatakan akan mengundang seluruh faksi parlemen dan anggota Knesset yang bersedia menerima prinsip-prinsip tersebut untuk bergabung dalam pemerintahan yang diusulkannya.

Dia juga memperingatkan bahwa penyelenggaraan pemilu baru hanya akan memperpanjang ketidakpastian politik Israel. Situasi tersebut berpotensi memberikan kesempatan kepada Netanyahu untuk terus bertahan sebagai perdana menteri sementara.

Netanyahu Kehilangan Dukungan Mayoritas Parlemen

Peluang pergantian pemerintahan ini tidak terlepas dari hasil pemilu parlemen Israel pada 27 Oktober 2026 yang menghasilkan komposisi Knesset terpecah.

Blok Netanyahu hanya berhasil mengamankan 53 kursi. Sementara itu, blok oposisi Yahudi memperoleh 48 kursi dan partai-partai yang dipimpin kelompok Arab mendapatkan 19 kursi.

Hasil tersebut membuat tidak ada satu pun blok politik yang berhasil mencapai ambang batas 61 kursi untuk menguasai mayoritas parlemen.

Dalam konsultasi dengan partai-partai politik, Presiden Isaac Herzog menerima rekomendasi dari faksi-faksi yang mewakili 67 anggota parlemen agar memberikan mandat pembentukan pemerintahan kepada Eisenkot. Sebaliknya, 46 anggota parlemen merekomendasikan Netanyahu.

Herzog dijadwalkan mengumumkan keputusannya pada Minggu. Keputusan tersebut menjadi tahapan penting dalam menentukan siapa yang akan memperoleh kesempatan pertama membentuk pemerintahan baru Israel.

Jika mendapatkan mandat dan berhasil menggalang dukungan mayoritas parlemen, Eisenkot berpeluang mengakhiri era pemerintahan Netanyahu dan mengambil alih jabatan perdana menteri Israel.

Topik Menarik