IHSG Pekan Ini Rawan Pelemahan di Level 5.000, Berikut Rekomendasi Sahamnya
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berada di bawah tekanan jual pada pekan perdagangan pertama November 2026. Secara teknikal, koreksi mingguan sebesar 7,03 persen pada pekan lalu mengindikasikan dominasi momentum bearish yang belum mengonfirmasi pemulihan tren jangka pendek.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari menjelaskan bahwa pergerakan IHSG pekan ini sangat bergantung pada ketahanan indeks di level psikologis 5.000.
"Pada pekan depan, pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh kemampuan indeks mempertahankan level psikologis 5.000 serta respons investor terhadap sejumlah agenda ekonomi domestik, meliputi rilis Manufacturing PMI, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi 3Q26, cadangan devisa, dan indeks harga rumah,” kata Brigita dalam risetnya, Senin (2/11/2026).
Brigita mengungkapkan, batas support teknikal IHSG berada di kisaran 4.915-5.012, sementara area resistance berada pada rentang 5.328-5.460.
Skenario terbaik memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif di kisaran 5.000-5.200 selama bertahan di atas 5.000.
“Sebaliknya, penutupan di bawah level tersebut akan meningkatkan risiko pelemahan menuju area 4.900 dan membuka ruang koreksi lebih dalam," imbuhnya.
Sepanjang pekan perdagangan 26–30 Oktober 2026, IHSG terkoreksi 7,03 persen dari level 5.439,25 menuju posisi 5.057,05, setelah sempat menyentuh level terendah intraday di 4.979.
Aktivitas pemodal asing mencatatkan nilai jual bersih (net foreign sell) akumulatif sekitar Rp4,1 triliun selama sepekan.
Koreksi mingguan ini diiringi penyesuaian aktivitas pasar. Rata-rata nilai transaksi harian melandai 29,49 persen menjadi Rp14,34 triliun dari Rp20,34 triliun pada pekan sebelumnya. Frekuensi transaksi harian juga turun 20,99 persen menjadi 1,54 juta kali.
Brigita menjelaskan bahwa saham yang paling banyak dikoleksi investor asing sepanjang pekan lalu adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp370 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp133,7 miliar, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp97 miliar.
Sebaliknya, pelepasan terbanyak terjadi pada saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp1,19 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp1,12 triliun, serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp504,9 miliar.
Di sisi lain, aliran dana smart money dalam lima hari terakhir mencatatkan akumulasi pada BBRI, BMRI, dan ASII, yang mengindikasikan adanya minat beli selektif pada saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) berfundamental solid.
Dari sisi eksternal, koreksi bursa global dipicu oleh kecemasan atas valuasi saham sektor teknologi dan belanja investasi pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mencatatkan 3,4 persen pada kuartal III 2026 bersama inflasi PCE sebesar 3,6 persen YoY memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer).
Kondisi tersebut membuat Bank Sentral AS (The Fed) menahan suku bunga di kisaran 3,75–4,00 persen, Bank Sentral Eropa (ECB) di level 2,65 persen, serta Bank Sentral Jepang (BOJ) di posisi 1,25 persen.
Sementara itu, investor global turut mencermati penyelenggaraan pemilu paruh waktu (midterm election) AS pada 3 November.
BI Perluas Underlying Operasi Moneter ke Obligasi Korporasi, Dorong Pendalaman Pasar dan Sektor Riil
Di pasar komoditas, risiko konflik Timur Tengah mendorong penguatan harga minyak mentah WTI ke USD104,12 per barel dan Brent ke USD113,43 per barel. Sebaliknya, harga emas melandai ke USD3.875 per troy ounce, sedangkan batubara menguat ke USD152,45 per ton.
Dari dalam negeri, tekanan pasar diperberat oleh pelemahan nilai tukar rupiah ke posisi Rp18.147 per dolar AS serta lonjakan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun hingga 7,66 persen. Pasar juga dicemaskan oleh isu potensi penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI.
Meski demikian, beberapa sentimen penyeimbang tetap menopang pasar, seperti keputusan FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia di klasifikasi Secondary Emerging Market, proyeksi kenaikan pertumbuhan ekonomi potensial Indonesia oleh Fitch Ratings menjadi 4,9 persen, rencana paket stimulus ekonomi 2027, serta perpanjangan relaksasi kebijakan buyback saham tanpa RUPS oleh OJK hingga Juni 2027.
"Kebijakan ini berpotensi menopang daya beli dan konsumsi domestik, dengan implikasi positif bagi sektor konsumer serta sektor-sektor yang sensitif terhadap pertumbuhan konsumsi dan aktivitas ekonomi, termasuk perbankan dan properti. Namun, efektivitas stimulus tetap bergantung pada realisasi program serta kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal," jelas Brigita.
Dengan demikian, menurut Brigita pemulihan kepercayaan investor memerlukan stabilitas makroekonomi dan penegakan tata kelola bursa yang konsisten.
"Di tengah tekanan pada pasar saham, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih obligasi pemerintah sebesar USD509 juta sepanjang Oktober. Secara keseluruhan, kebijakan stimulus dan reformasi pasar berpotensi menjadi penyangga sentimen domestik. Namun, pemulihan kepercayaan investor tetap membutuhkan stabilitas rupiah, konsistensi kebijakan fiskal, serta perbaikan transparansi dan tata kelola pasar modal,” pungkas Brigita.
Berikut rekomendasi IPOT untuk pekan ini.
1. Buy ASII (Entry: 4.800, Target Price (TP): 5.275, Stop Loss (SL): 4.560).
2. Buy ISAT (Entry: 1.530, Target Price (TP): 1.705, Stop Loss (SL): 1.47).
3. Buy KLBF (Entry: 730, Target Price (TP): 800, Stop Loss (SL):700).
4. Buy Power Fund Series XGLD.









