Yield SBN Tembus 7,7 Persen, Menkeu Pastikan Pembiayaan APBN Tetap Kredibel

Yield SBN Tembus 7,7 Persen, Menkeu Pastikan Pembiayaan APBN Tetap Kredibel

Ekonomi | okezone | Jum'at, 30 Oktober 2026 - 21:18
share

JAKARTA - Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan bahwa lonjakan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang menyentuh level 7,7 persen pada akhir Oktober 2026 tetap dikelola dalam koridor pembiayaan anggaran yang terukur. 

Kementerian Keuangan memastikan penarikan pembiayaan utang tetap dijalankan sesuai target APBN guna menjaga kesinambungan belanja negara yang adaptif di tengah pengetatan likuiditas global.

Kenaikan imbal hasil obligasi negara ke level 7,7 persen dinilai mencerminkan transmisi tekanan pasar keuangan global terhadap instrumen surat utang pemerintah. Kendati biaya dana atau cost of fund mengalami penyesuaian, otoritas fiskal menegaskan penarikan pembiayaan tetap berpatokan pada target yang telah dipatok dalam undang-undang anggaran.

"Pembiayaan kita sudah disampaikan di APBN dan kita jalankan sehingga bisa menciptakan APBN yang kredibel, termasuk menuntaskan pembiayaan yang memang harus dijalankan," tegas Suahasil selepas acara Rapimnas Kadin Indonesia, di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Penarikan pembiayaan melalui penerbitan surat utang tersebut diarahkan langsung untuk menjamin kesinambungan pos-pos belanja prioritas nasional. Pemerintah merancang alokasi pengeluaran kas negara dengan ruang gerak yang adaptif agar mampu meredam rambatan gejolak eksternal.

"Pembiayaan yang kita tuntaskan itu adalah untuk belanja negara yang selalu kita rancang supaya fleksibel merespons situasi yang berkembang," ujar Suahasil.

 

Dinamika pasar obligasi saat ini tidak terlepas dari kombinasi fluktuasi harga komoditas energi serta era suku bunga acuan global yang masih bertahan di level tinggi. Di tengah eskalasi risiko tersebut, pemerintah mengandalkan fleksibilitas fiskal sebagai peredam kejut guna menjaga momentum pemulihan ekonomi domestik.

"APBN memang harus fleksibel menghadapi kondisi global, harga komoditas yang volatile, dan suku bunga yang meningkat di berbagai negara, karena APBN adalah alat menyejahterakan, menumbuhkan, dan melindungi masyarakat yang harus tetap dipercaya bisa bekerja dengan baik," urai Suahasil.

Topik Menarik