Selat Hormuz Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus USD117 per Barel

Selat Hormuz Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Tembus USD117 per Barel

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 30 Oktober 2026 - 22:05
share

Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat (30/10) menuju kenaikan bulanan keempat berturut-turut seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz kembali meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk di tengah ketidakpastian penyelesaian konflik.

"Pasar minyak semakin diliputi kekhawatiran menjelang pemilihan paruh waktu AS," kata Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen dikutip dari Reuters, Jumat (30/10/2026).

Baca Juga:Harga Komoditas Global 'Jumping' 23 di 2026, Bank Dunia Wanti-wanti Ancaman Krisis Pangan

Sejumlah investor dan analis memperkirakan serangan AS terhadap Iran berpotensi kembali berlanjut setelah pemilu sela. Pada pukul 12.36 GMT, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember yang berakhir pada Jumat naik USD2,26 atau 2 menjadi USD117,14 per barel.

Sementara itu, kontrak Brent untuk pengiriman Januari yang lebih aktif diperdagangkan menguat USD2,30 menjadi USD113,10 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik USD1,94 atau 1,9 menjadi USD103,94 per barel. Sepanjang Oktober, Brent diperkirakan menguat 13, sedangkan WTI naik sekitar 15.Kekhawatiran pasar meningkat setelah kapal tanker di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk, terkena perangkat peledak yang dipasang oleh sebuah kapal kecil pada Jumat. Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan serangan tersebut, tetapi belum dapat memastikan pihak yang bertanggung jawab. Sumber maritim menyebut insiden itu merupakan serangan pertama yang diketahui berhasil menggunakan ranjau magnetik atau limpet mine di jalur tersebut sejak perang AS-Iran dimulai pada Februari.

Kepala Riset Energi MST Marquee Saul Kavonic mengatakan aksi militer yang terus berlangsung di sekitar Selat Hormuz ditambah belum jelasnya jalur diplomasi membuat harga minyak tetap tinggi karena pasar memperhitungkan kemungkinan konflik meningkat dalam beberapa pekan mendatang. Analis komoditas UBS Giovanni Staunovo juga menilai risiko eskalasi dan gangguan pasokan masih lebih besar, sementara pejabat Iran belum menunjukkan keyakinan bahwa kesepakatan dengan AS dapat dicapai dalam waktu dekat.

Di tengah upaya diplomasi, mediator Qatar kembali mengunjungi Teheran pada Jumat untuk mendorong kesepakatan antara AS dan Iran. Namun, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan Teheran telah menerima surat dari Wakil Presiden AS JD Vance untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai, tetapi belum memberikan tanggapan. Iran disebut menginginkan AS memenuhi sejumlah persyaratan yang telah ditetapkan.

Baca Juga:Finlandia Murka, Google Babat Hutan untuk Proyek Pusat Data

Ketegangan kawasan juga meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang sejumlah lokasi di Arab Saudi, termasuk kilang minyak terbesar negara tersebut, Ras Tanura dan Rabigh, serta fasilitas produksi Abqaiq milik Saudi Aramco. Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat rudal jelajah yang diluncurkan kelompok tersebut menuju wilayah barat kerajaan. Situasi keamanan itu turut mendorong ExxonMobil dan Chevron membatalkan rencana perjalanan para eksekutif mereka ke pameran minyak terbesar Uni Emirat Arab pekan depan.

Saxo Bank memperkirakan harga minyak masih akan bergerak pada kisaran lebih tinggi, yakni USD70 hingga USD90 per barel, bahkan setelah konflik berakhir. Kisaran tersebut berada di atas level sebelum perang yang berkisar USD60 hingga USD70 per barel, antara lain karena risiko pecahnya kembali konflik dan kebutuhan negara-negara untuk mengisi ulang cadangan minyak. Ketidakpastian juga diperkirakan meningkat dalam beberapa pekan ke depan menjelang pemilu parlemen Israel dan pemilihan paruh waktu Kongres AS.

Topik Menarik