Industri Event Indonesia Didorong Optimalkan Dampak Ekonomi

Industri Event Indonesia Didorong Optimalkan Dampak Ekonomi

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 30 Oktober 2026 - 22:45
share

Industri event Indonesia didorong mengukur kontribusi ekonomi setiap penyelenggaraan acara secara lebih terstruktur guna mengoptimalkan peluang bisnis dan menciptakan dampak ekonomi berkelanjutan. Pendekatan Experience/Event Economic Calculator (EEC) akan menjadi salah satu pembahasan utama dalam Indonesia Event Management Summit (IVES) 2026.

“Melalui EEC, kami ingin membantu pelaku industri mengukur dampak ekonomi sekaligus nilai pengalaman yang dihasilkan sebuah event. Pengukuran ini menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan menunjukkan kontribusi nyata industri,” ujar CEO Konect Aryo Febrian Moedanton dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).

Baca Juga:Survei Lemkapi: 83,5 Publik Percaya Program Polri Bersama Masyarakat Bawa Perubahan

EEC merupakan pendekatan untuk mengukur nilai ekonomi sebuah acara secara menyeluruh, mulai dari peluang usaha, perputaran aktivitas ekonomi, kolaborasi bisnis, hingga dampak terhadap masyarakat dan wilayah sekitar. Pengukuran tersebut tidak hanya bertumpu pada jumlah pengunjung atau pendapatan tiket, tetapi juga mencakup aktivitas sektor pendukung seperti hiburan, akomodasi, transportasi, konsumsi, serta jasa produksi dan penyelenggaraan acara.

Mengusung tema "From Invisible to Indispensable" dengan tagline "Make It Count", IVES 2026 juga menyoroti pentingnya membangun nilai industri event dalam jangka panjang. Head of Marketing & Promotion Musica Chandra Samhari mengatakan, pengembangan karya atau kekayaan intelektual (intellectual property/IP) di industri musik membutuhkan identitas kuat, strategi konsisten, serta kemampuan membangun hubungan dengan audiens agar tidak hanya populer sesaat.

Dari sisi penyelenggaraan, Ketua Presidium API Reza Pamungkas menekankan bahwa keberhasilan sebuah pertunjukan tidak cukup diukur dari tiket yang terjual habis. Kesiapan teknis, produksi, dan koordinasi tim menjadi faktor penting untuk memastikan kualitas acara serta pengalaman yang dijanjikan kepada penonton dapat terpenuhi.

Sementara itu, General Manager Grand Sahid Jaya Herman Courbois menilai industri MICE (meetings, incentives, conventions, and exhibitions) menghadapi tantangan untuk mempertahankan kualitas penyelenggaraan di tengah tekanan anggaran. Karena itu, pelaku industri perlu menerapkan strategi penggunaan sumber daya yang efektif dan efisien agar tetap mampu memberikan nilai optimal kepada peserta maupun mitra bisnis.

Baca Juga:Mendagri Terbitkan SE untuk Perkuat Peran Pemda Awasi Program MBG

IVES 2026 dijadwalkan menghadirkan lebih dari 40 sesi dengan melibatkan lebih dari 70 pembicara dan moderator. Forum tersebut juga menargetkan lebih dari 240 pertemuan melalui program speed networking untuk memperluas jejaring, mempertemukan pelaku usaha, serta membuka peluang kolaborasi bisnis di industri event nasional.

Rangkaian kegiatan akan berlangsung melalui tiga panggung utama, yakni The Industry, The Business, dan The Engine Room, yang masing-masing membahas perkembangan industri, strategi bisnis, serta aspek teknis penyelenggaraan acara. Penyelenggaraan forum ini turut didukung enam asosiasi, yaitu APMI, Backstagers, Event Owner, IMARINDO, IVENDO, dan Rental Indonesia, sebagai upaya memperkuat ekosistem industri event Indonesia.

Topik Menarik