Kemiskinan Global Naik Pertama Kali Sejak 2010, PBB: 1,2 Miliar Jiwa Terdampak

Kemiskinan Global Naik Pertama Kali Sejak 2010, PBB: 1,2 Miliar Jiwa Terdampak

Terkini | okezone | Rabu, 14 Oktober 2026 - 01:05
share

JAKARTA - Kemiskinan global meningkat untuk pertama kalinya sejak tahun 2010, menurut laporan terbaru PBB yang dirilis pada Senin (12/10/2026). Laporan tersebut mengungkap bahwa 1,2 miliar orang saat ini menghadapi kekurangan yang akut.

Studi oleh Program Pembangunan PBB (UNDP) dan Universitas Oxford ini menemukan bahwa jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan akut telah bertambah sebanyak 51,5 juta jiwa dibandingkan dengan penilaian sebelumnya. Peningkatan ini merupakan yang pertama tercatat sejak Indeks Kemiskinan Multidimensi (MPI) global diperkenalkan pada tahun 2010.

Laporan yang mencakup 108 negara ini mengukur kemiskinan melampaui sekadar pendapatan, dengan meninjau kekurangan dalam aspek kesehatan, pendidikan, dan standar hidup. Laporan tersebut menggunakan sepuluh indikator, termasuk gizi, angka kematian anak, pendidikan, akses terhadap air bersih dan listrik, sanitasi, serta kondisi perumahan. Seseorang dikategorikan hidup dalam kemiskinan akut jika rumah tangganya mengalami kekurangan pada setidaknya sepertiga dari indikator-indikator yang diberi bobot tersebut.

Hampir separuh dari mereka yang hidup dalam kemiskinan—sebanyak 534 juta orang—menghadapi kekurangan yang 'parah', yang berarti mereka tidak memiliki setidaknya separuh dari kebutuhan dasar yang diukur oleh indeks tersebut. Sebanyak 952 juta orang lainnya dianggap rentan terhadap kemiskinan; mereka mengalami kekurangan yang signifikan namun belum mencapai ambang batas kemiskinan akut, ungkap UNDP sebagaimana dilansir RT.

Anak-anak mencakup lebih dari separuh jumlah orang yang terdampak, yakni sebanyak 617 juta jiwa. Lebih dari 80 persen di antaranya tinggal di wilayah pedesaan. Kawasan Afrika Sub-Sahara memiliki jumlah penduduk miskin terbanyak, yaitu 616 juta jiwa, disusul oleh Asia Selatan dengan 393 juta jiwa.

Administrator UNDP, Alexander De Croo, menyebut peningkatan ini sebagai "seruan untuk menyadarkan dunia," seraya memperingatkan bahwa jutaan orang menghadapi berbagai kesulitan yang saling memperparah satu sama lain, termasuk kelaparan, putus sekolah, dan kurangnya akses terhadap layanan dasar.

 

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pertumbuhan populasi turut berkontribusi terhadap peningkatan tersebut, di samping perubahan tingkat kemiskinan dan perbedaan data yang digunakan untuk mengukur tingkat kekurangan (deprivasi).

Terlepas dari peningkatan secara global, sejumlah negara telah mencatat kemajuan. Mesir, Nepal, dan Tajikistan mencatat penurunan signifikan, baik dalam proporsi maupun jumlah penduduk yang hidup dalam kemiskinan. Namun, Nigeria mengalami pembalikan tren dari kemajuan sebelumnya, di mana angka kemiskinan kembali meningkat pada tahun 2020-an.

Secara keseluruhan, 33 negara berhasil memangkas skor indeks kemiskinan mereka hingga separuhnya dalam waktu kurang dari 15 tahun. China mencatat penurunan tercepat di antara negara-negara yang datanya tersedia. Vietnam dan Eswatini juga menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Sebuah kajian Bank Dunia yang dirilis pada bulan September memperkirakan bahwa lebih dari 824 juta orang di seluruh dunia—atau sekitar satu dari setiap sepuluh orang—hidup dengan penghasilan kurang dari 3 dolar AS per hari pada tahun 2024.

Topik Menarik