Peringatkan AS, Iran Akan Hancurkan Pusat Data dan Fasilitas AI Jika Diserang Lagi
TEHERAN - Iran akan menghancurkan infrastruktur teknologi Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk jika Washington kembali melancarkan serangan. Demikian peringatan yang disampaikan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei.
Dalam wawancara dengan Press TV yang ditayangkan akhir pekan lalu, Rezaei secara khusus menyoroti aset-aset AS yang berada di Uni Emirat Arab dan di sekitar Selat Hormuz. Ia memperkirakan nilai aset-aset tersebut mencapai lebih dari USD 2 triliun dan menyebutnya sebagai "nadi perekonomian Amerika di kawasan ini."
"Kami belum memasukkan aset-aset ini ke dalam daftar target kami. Namun, jika perang pecah, banyak dari kabel, pusat data, fasilitas kecerdasan buatan, dan berbagai lokasi lainnya akan dihancurkan," ujarnya sebagaimana dilansir RT.
Rezaei menyatakan bahwa Teheran sengaja menahan penggunaan sejumlah kemampuan militernya dalam pertempuran sebelumnya, namun kini siap untuk mengerahkan kemampuan tersebut dan "menghadapi musuh dengan rencana yang jauh lebih luas dan menyeluruh" jika permusuhan kembali terjadi.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan kampanye militer terhadap Iran pada 28 Februari. Meskipun pertempuran telah mereda, blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih berlanjut, sementara lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz tetap terganggu.
Kontak diplomatik terus berlangsung melalui Pakistan, Qatar, dan Irak. Rezaei mengatakan bahwa Washington telah menerima sebagian dari tujuh syarat Teheran untuk menyelesaikan konflik, namun membiarkan poin-poin lainnya tetap tidak jelas, sehingga tanggapan mereka dianggap tidak memadai.
Tuntutan Iran mencakup pencabutan blokade angkatan laut, penghentian permusuhan di semua lini, dan pelepasan aset yang dibekukan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, mengatakan pada Senin (12/10/2026) bahwa komunikasi melalui pihak penengah masih terus berjalan dan Teheran sedang meninjau poin-poin terbaru dari Washington.
Jay Idzes Cedera saat Sassuolo Menang Dramatis 3-2 atas Juventus di Liga Italia 2026-2027!
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak usulan Iran tersebut, dengan mengatakan bahwa Teheran ingin "membuat kesepakatan, tetapi bukan kesepakatan yang ingin saya buat." Ia juga mengisyaratkan bahwa serangan AS dapat kembali dilancarkan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyatakan pekan lalu bahwa Teheran telah "kehilangan kendali penuh" atas Selat Hormuz dan bahwa arus minyak mulai mendekati tingkat sebelum perang.
Namun, Rezaei menepis klaim Washington bahwa selat tersebut terbuka dan menegaskan bahwa Iran akan tetap memegang kendali atas jalur perairan itu. Ia juga menuduh kepala Komando Pusat AS mengarahkan operasi penyelunduptan minyak dengan dukungan militer UEA.
Di tengah pernyataan yang saling bertentangan dari Washington dan Teheran, risiko keamanan di jalur perairan vital tersebut masih terus ada. Pekan lalu, sebuah kapal tanker minyak diserang di dekat Oman, yang mengakibatkan 12 awak kapal terluka. Tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.
Sementara itu, harga minyak terus berfluktuasi sebagai respons terhadap krisis di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent naik hingga di atas USD 106 per barel pada Senin seiring serangan Houthi terhadap Arab Saudi yang menambah kekhawatiran mengenai pasokan di kawasan tersebut. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan bahwa tekanan terhadap rantai pasokan energi akan semakin meningkat hingga Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya.










