MBG Prasmanan Diuji Coba di 60 SPPG, Ini Konsepnya

MBG Prasmanan Diuji Coba di 60 SPPG, Ini Konsepnya

Ekonomi | okezone | Senin, 5 Oktober 2026 - 16:47
share

JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba konsep Makan Bergizi Gratis (MBG) secara prasmanan di lebih dari 60 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kepala BGN Sudaryono menjelaskan dalam skema ini, makanan dibawa dalam kondisi hangat dari dapur untuk kemudian disajikan langsung di kelas.

"Per hari ini, dari tanggal 5  ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi makanan dibawa anget-anget ke kelas kemudian disajikan di kelas," kata Kepala BGN Sudaryono di Jakarta, Senin (5/10/2026).

Menurutnya, konsep prasmanan diharapkan membuat makanan yang diterima siswa lebih enak dan fresh karena waktu antara makanan selesai dimasak hingga disajikan dapat dipangkas.

"Makanannya lebih enak karena anget-anget, yang kedua tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu, sehingga mengurangi risiko apa kerusakan makanan yang rusak kemudian menyebabkan gangguan kesehatan," jelas Sudaryono.

Lebih lanjut disampaikan, dalam pelaksanaannya, BGN tidak hanya memberikan pelatihan kepada dapur SPPG, tetapi juga kepada pihak sekolah. Sebab, siswa akan dilibatkan untuk melayani makanan dalam sistem piket.

"Jadi kalau prasmanan ini yang dilatih adalah dapurnya, yang dilatih juga adalah sekolahnya. Karena yang melayani adalah siswanya, jadi siswa itu ada piket kayak di Jepang gitulah" jelasnya.

Dia menambahkan, sistem prasmanan juga memungkinkan siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menambah makanan apabila masih tersedia. Dengan demikian, BGN berharap sisa makanan atau food waste dapat ditekan.

"Lebih fresh ya, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa, bisa nambah gitu, jadi waste, waste-nya lebih sedikit ya karena prasmanan itu," sebut Sudaryono.

 

Adapun uji coba konsep MBG prasmanan tersebut dilakukan di sejumlah wilayah, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta hingga Papua, termasuk Jayapura.

Sudaryono menilai penerapan sistem prasmanan membutuhkan pelatihan yang cukup karena melibatkan pihak sekolah dan siswa secara langsung. Dalam pelaksanaannya, siswa yang bertugas akan menggunakan celemek dan sarung tangan serta melayani teman-temannya maupun guru.

"Memang perlu ada training yang cukuplah, karena melibatkan sekolah kan, melibatkan siswanya kan. Siswanya harus, nanti siswa pakai celemek, kemudian pakai sarung tangan, dia piket 5-6 orang dia ngelayanin temennya, ngelayanin gurunya, gitu," pungkasnya.

Topik Menarik