Perluas Pilihan Proteksi dan Diversifikasi melalui Great Investlink Protection

Perluas Pilihan Proteksi dan Diversifikasi melalui Great Investlink Protection

Ekonomi | sindonews | Senin, 5 Oktober 2026 - 16:22
share

Partai Hijau Inggris dan Wales memilih untuk menyatakan bahwa Zionisme merupakan salah satu bentuk rasisme. Keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya itu diambil dalam konferensi tahunan partai di Brighton.

Pemungutan suara anggota partai pada Minggu (4/10/2026) juga mendukung pembentukan satu negara Palestina yang demokratis dengan hak yang setara bagi seluruh kelompok etnis dan agama, sebagai alternatif terhadap solusi dua negara Israel-Palestina.

Baca Juga: Heboh PM Samoa Salam Nazi dan Ucapkan Heil Hitler, Kini Minta Maaf dan Dukung Israel

Sebanyak 1.022 anggota memilih mendukung mosi tersebut, sementara 813 anggota menolaknya.

Wakil Ketua Bersama Partai Hijau, Mothin Ali, mengatakan kepada Middle East Eye (MEE) bahwa dirinya sangat mendukung mosi tersebut. Sikap itu berbeda dengan sejumlah anggota parlemen Partai Hijau, termasuk Carla Denyer dan Adrian Ramsay, yang mengkritiknya.

"Sebagaimana didefinisikan dalam mosi tersebut, Zionisme adalah proyek negara etno-nasionalis. Zionisme menghasilkan pembersihan etnis, dengan keyakinan bahwa satu kelompok manusia lebih unggul daripada kelompok lainnya," kata Ali.

"Saya adalah seorang yang berkomitmen pada anti-rasisme. Saya terjun ke dunia politik melalui gerakan antirasisme dan antiperang. Sejak saat itu, saya benar-benar memahami seperti apa rasisme, baik yang bersifat struktural maupun personal," lanjutnya."Keyakinan bahwa satu kelompok manusia lebih unggul daripada kelompok lainnya, saya tidak bisa menerimanya."

Hak Penentuan Nasib Sendiri Palestina

Para anggota Partai Hijau menolak sebuah amendemen terhadap mosi yang menyatakan bahwa keputusan tersebut tidak boleh digunakan untuk menekan, melarang, atau mendisiplinkan anggota berdasarkan keterkaitan mereka dengan lembaga komunitas Yahudi, seperti sinagoge, pusat komunitas, atau kelompok keagamaan yang mengidentifikasi diri sebagai Zionis.

Amendemen tersebut juga bertujuan memastikan anggota Yahudi tidak dikenai sanksi hanya karena menyampaikan pandangan yang sebenarnya diperbolehkan bagi anggota non-Yahudi, termasuk dukungan terhadap pembentukan negara binasional atau solusi dua negara.

Di sisi lain, anggota Partai Hijau menyetujui amendemen terpisah yang menegaskan "hak yang tidak dapat dicabut untuk menentukan nasib sendiri" bagi rakyat Palestina, menurut sumber internal partai kepada MEE.

Ali mengatakan dia meyakini mosi tersebut akan mengubah wacana politik di Inggris.

"Pada 2024, Partai Hijau mengakui bahwa genosida sedang berlangsung di Gaza, sebelum partai politik besar lainnya," ujarnya."Jadi, kami selalu menjadi yang terdepan dalam isu ini. Kami juga berada di garis depan dalam persoalan hak asasi manusia, di mana pun itu terjadi. Kami membawa partai-partai politik lain bersama kami. Kami mendorong agar perdebatan ini berlangsung di tengah masyarakat," paparnya.

Mosi Disebut Melindungi Warga Yahudi

Sebelum konferensi dimulai, muncul laporan bahwa anggota Partai Hijau beragama Yahudi yang menjadi anggota sinagoge yang mengidentifikasi diri sebagai Zionis dapat menghadapi proses disipliner internal.

Lubna Speitan, warga Inggris keturunan Palestina yang menjadi penulis utama mosi tersebut, mengatakan kepada MEE pada Sabtu bahwa laporan itu keliru.

Dia menjelaskan bahwa mosi tersebut merupakan "E-Motion", yang berarti berkaitan dengan persoalan eksternal dan tidak memiliki dampak terhadap proses internal partai.

"Kami telah menjelaskan secara eksplisit dalam mosi bahwa tidak semua orang Yahudi adalah Zionis dan tidak semua Zionis adalah orang Yahudi," katanya.

Mosi tersebut mendapat dukungan dari penyintas Holocaust sekaligus aktivis Stephen Kapos. Dia mengatakan dirinya meyakini bahwa "Zionisme, baik sebagai ideologi maupun praktik, berbahaya, tidak memiliki legitimasi dan harus ditolak."Namun, kelompok Jewish Greens tidak mengambil sikap resmi terhadap mosi tersebut. Kelompok itu mengatakan anggotanya terpecah dalam menyikapi persoalan tersebut.

Pemimpin Partai Hijau Zack Polanski, yang merupakan seorang Yahudi, bulan lalu mengatakan mosi tersebut perlu diamendemen agar "sangat jelas dan eksplisit bahwa mosi ini melindungi warga Yahudi."

"Artinya, jika seseorang menentang pendudukan, menentang apartheid, menentang genosida, tetapi kebetulan menjadi anggota sebuah sinagoge yang menyebut dirinya sebagai sinagoge Zionis, mereka tidak boleh diperlakukan berbeda di dalam Partai Hijau," kata Polanski.

Mothin Ali mengatakan dirinya tidak menentang amendemen tersebut.

"Jika anggota Yahudi merasa membutuhkan jaminan tambahan, saya pikir mereka berhak memintanya," katanya."Semua anggota harus merasa aman di partai ini. Bukan berarti mosi tersebut harus membuat mereka merasa tidak aman, tetapi jika mereka menginginkan jaminan tambahan, saya menyambutnya."

Juru bicara Partai Hijau tidak bersedia mengatakan apakah Polanski akan mendukung mosi tersebut jika dilakukan amendemen.

Polanski sendiri tidak memberikan suara dalam pemungutan suara tersebut karena telah meninggalkan konferensi lebih awal untuk berkampanye dalam pemilu sela di daerah pemilihan Holborn and St Pancras.

Setelah pemungutan suara, lima anggota parlemen Partai Hijau mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan: "Kami tidak akan pernah menoleransi segala bentuk diskriminasi atau pelecehan."

Mereka menambahkan, "Tidak ada konflik antara mendukung hak-hak rakyat Palestina dan hak-hak warga Yahudi."

Topik Menarik