Kementan Perkuat Koperasi Susu, Kejar Tambahan 600 Ribu Sapi Perah hingga 2029

Kementan Perkuat Koperasi Susu, Kejar Tambahan 600 Ribu Sapi Perah hingga 2029

Ekonomi | okezone | Selasa, 29 September 2026 - 16:52
share

JAKARTA — Pemerintah memprioritaskan produksi susu peternak dalam negeri untuk mempercepat terwujudnya swasembada susu nasional. Kementerian Pertanian (Kementan) pun berkomitmen menambah sedikitnya 600 ribu ekor sapi perah indukan hingga 2029, sekaligus memperkuat koperasi, produktivitas, pembiayaan, pakan, hingga kepastian penyerapan susu peternak.

“Selama peternak mampu menghasilkan susu, kita tidak akan impor,” tegas Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, Selasa (29/9/2026).

Komitmen tersebut menjadi landasan Kementan dalam membangun ekosistem persusuan yang tidak hanya berfokus pada penambahan populasi sapi, tetapi juga memastikan peternak memiliki kemampuan meningkatkan produksi dan mendapatkan kepastian pasar.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan produksi susu segar dalam negeri saat ini baru memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya ruang pengembangan industri persusuan sekaligus pentingnya memperkuat peternakan rakyat.

“Kita masih membutuhkan penambahan sapi perah dalam jumlah besar. Tetapi yang dibangun bukan hanya populasinya. Produktivitas, kesehatan hewan, pakan, pembiayaan, sampai kepastian penyerapan susu peternak juga harus disiapkan bersama,” ujar Agung saat mendampingi Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI ke Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur, Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (28/9/2026).

Menurut Agung, pemerintah menargetkan penambahan sedikitnya 600 ribu ekor sapi perah indukan hingga 2029. Penambahan populasi tersebut diharapkan memperkuat produksi susu nasional sehingga pada 2030 ketergantungan terhadap impor dapat ditekan secara signifikan.

Untuk mempercepat penambahan populasi, pemerintah menyiapkan skema dukungan bagi peternak yang mencakup uang muka pembelian sapi, asuransi, kandang, dan alat perah. Sebagian kebutuhan pembiayaan juga dapat menggunakan skema perbankan.

“Kita ingin peternak bisa menambah sapi tanpa harus menanggung seluruh biaya di awal. Karena itu, pemerintah menyiapkan skema dukungan yang lebih sesuai dengan karakter usaha sapi perah,” katanya.

Agung menegaskan peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan kepastian pasar. Menurutnya, peternak tidak boleh menghadapi persoalan penyerapan ketika produksi susu meningkat.

“Tidak boleh ada susu segar peternak yang tidak terserap. Kalau produksi ditingkatkan, industri dan pasarnya juga harus siap. Peternak perlu mendapat kepastian bahwa susu yang mereka hasilkan memiliki pasar,” tegas Agung.

Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto mengatakan penguatan koperasi menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian susu nasional. Koperasi memiliki posisi strategis dalam menghubungkan peternak dengan industri sekaligus memperkuat rantai pasok susu.

“Kami ingin melihat bagaimana rantai pasok susu berjalan, apa yang masih menjadi hambatan, serta dukungan apa yang diperlukan agar peternak, koperasi, industri, dan pemerintah dapat bergerak dalam satu ekosistem yang saling memperkuat,” ujar Titiek.

Menurut Titiek, KUTT Suka Makmur memiliki posisi strategis karena tidak hanya menghimpun dan memasarkan susu, tetapi juga memberikan dukungan kepada peternak melalui penyediaan pakan, pelayanan kesehatan hewan, dan pembiayaan.

“Kemandirian susu nasional bukan sekadar persoalan menambah sapi, tetapi membangun ekosistem yang membuat peternak mampu menghasilkan susu secara produktif, efisien, dan berkelanjutan,” tegasnya.

KUTT Suka Makmur saat ini menaungi lebih dari 2.000 peternak dengan populasi sekitar 8.700 ekor sapi perah dan produksi sekitar 35 ton susu segar per hari. Koperasi juga mengembangkan produk olahan susu serta menjalin kemitraan penyerapan susu dengan industri.

Ketua KUTT Suka Makmur Evi Zainal Abidin mengatakan keberlanjutan usaha peternak sangat bergantung pada kemitraan yang sehat antara koperasi dan industri. Kepastian pasar akan memberikan ruang bagi peternak untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan usaha.

“Industri dan koperasi sudah selayaknya menjadi mitra strategis yang saling membesarkan. Kemitraan yang sehat akan membuka ruang agar peternak berkembang, koperasi semakin kuat, dan industri mendapatkan pasokan susu yang berkualitas,” ujar Evi.

Selain pasar, ketersediaan pakan menjadi salah satu tantangan utama pengembangan sapi perah. KUTT Suka Makmur terus mendorong pengembangan produk olahan susu sekaligus memperkuat penyediaan pakan bagi peternak.

“Sumber pakan dan bahan baku pakan menjadi salah satu kunci berkembangnya peternakan sapi perah di Indonesia. Kalau pakan tersedia dan kemitraan berjalan baik, peternak memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan usahanya,” katanya.

Bupati Pasuruan Mochamad Rusdi Sutejo mengatakan pengembangan persusuan merupakan salah satu sektor penting bagi perekonomian masyarakat Kabupaten Pasuruan. Pemerintah daerah mendorong penguatan produksi, ketersediaan pakan, hingga kepastian penyerapan susu peternak.

“Pasuruan memiliki potensi sapi perah dan produksi susu yang besar. Tantangan kami adalah bagaimana produksi terus meningkat dengan dukungan pakan yang cukup, sekaligus memastikan susu peternak terserap dengan baik oleh koperasi dan industri,” ujar Rusdi.

Ia menambahkan, pemanfaatan lahan untuk hijauan dan bahan baku pakan perlu diperluas agar usaha sapi perah dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Topik Menarik