Menag: Warisan Intelektual Islam di Nusantara Harus Diadaptasikan dengan Sains dan AI
JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar, menyebut Jawa Tengah memiliki tradisi intelektual dan keagamaan yang panjang. Sejumlah tokoh keilmuan disebut pernah tumbuh dari wilayah tersebut, diantaranya Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Syekh Ahmad Mutamakkin, dan Kiai Saleh Darat.
Oleh karena itu, kekayaan warisan intelektual Islam di Nusantara harus segera diadaptasikan dengan kemajuan sains dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
“Tradisi tersebut perlu dikembangkan dalam konteks kekinian. Perguruan tinggi dan lingkungan akademik memiliki ruang penting untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual yang menjadikan Al-Qur'an sebagai objek kajian yang terus digali," ujar Nasaruddin dalam Seminar Internasional MTQ Nasional di Universitas Negeri Semarang, dikutip Senin (14/9/2026).
Nasaruddin menjelaskan, Al-Qur'an memiliki susunan dan kandungan yang dapat terus dikaji dari berbagai perspektif. Karena itu, ia mengajak peserta seminar untuk melihat Al-Qur'an tidak hanya sebagai teks yang dibaca secara berulang, tetapi juga sebagai sumber kajian yang dapat ditelaah secara lebih mendalam.
Dalam konteks perkembangan teknologi, dia menyinggung kehadiran artificial intelligence (AI) yang semakin berkembang. Menurutnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan bagi manusia untuk melihat berbagai fenomena secara lebih mendalam dan memperluas ruang kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur'an.
Nasaruddin juga mengaitkan perkembangan kajian tersebut dengan konsep guru yang lebih luas. Dalam tradisi Al-Qur'an, menurutnya, proses belajar tidak hanya berlangsung melalui manusia sebagai guru, tetapi juga dapat dilakukan dengan mempelajari alam dan berbagai fenomena di dalamnya.
“Konsep multiple teachers atau guru yang kompleks inilah yang perlu kita bangkitkan kembali. Perkembangan teknologi digital dapat menjadi bagian dari proses memperluas cara manusia memperoleh pengetahuan,”bebernya.
Karena itu, kajian Al-Qur'an perlu ditempatkan dalam ruang intelektual yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pengembangan tradisi tersebut perlu diarahkan agar Indonesia memiliki peran lebih besar dalam pengembangan kajian Al-Qur'an. Ia berharap Indonesia dapat menjadi salah satu pusat pengembangan kajian Al-Qur'an pada masa mendatang. “Tugas sejarah berikutnya adalah Indonesia untuk mengembangkan Al-Qur'an,”pungkasnya.










