Studi Ungkap Penurunan Berat Badan hingga 27,7 pada Pasien Obesitas
JAKARTA — Pasien obesitas yang menunjukkan respons cepat terhadap terapi penurunan berat badan sejak awal pengobatan tercatat mengalami penurunan berat badan rata-rata hingga 27,7 persen setelah 72 minggu. Temuan ini merupakan hasil analisis terbaru studi STEP UP yang dipresentasikan dalam European Congress on Obesity 2026.
Temuan tersebut merupakan hasil analisis terbaru dari studi STEP UP berdasarkan data yang dipresentasikan dalam European Congress on Obesity 2026, demikian dilansir dari laman CNBC International.
Dalam analisis tersebut, pasien yang disebut early responders adalah mereka yang berhasil menurunkan sedikitnya 15 persen berat badan dalam 24 minggu pertama. Kelompok ini mencakup sekitar 26,9 persen peserta yang mendapatkan terapi berbasis GLP-1 RA dosis tinggi dari Novo Nordisk.
Meski demikian, angka 27,7 persen bukanlah hasil rata-rata seluruh peserta. Berdasarkan analisis efikasi, seluruh kelompok yang mendapat dosis tinggi mengalami penurunan berat badan rata-rata 20,7 persen setelah 72 minggu. Sementara itu, analisis yang memperhitungkan seluruh peserta terlepas dari kepatuhan atau keberlanjutan terapi menunjukkan penurunan sebesar 18,7 persen.
Studi STEP UP melibatkan 1.407 orang dewasa dengan obesitas tanpa diabetes tipe 2. Peserta menerima terapi berbasis GLP-1 RA dosis tinggi, dosis pembanding yang lebih rendah, atau plasebo selama 72 minggu.
Hasilnya menunjukkan kelompok dosis tinggi mengalami penurunan berat badan rata-rata 20,7 persen, dibandingkan 17,5 persen pada kelompok dosis pembanding dan 2,4 persen pada kelompok plasebo.
Dengan berat badan awal peserta sekitar 113 kilogram, penurunan 20,7 persen setara dengan sekitar 23 kilogram.
Respons Lambat Bukan Berarti Gagal
Kecepatan penurunan berat badan pada tahap awal memang berkaitan dengan hasil akhir, tetapi bukan satu-satunya indikator keberhasilan terapi.
Peserta yang tidak mencapai penurunan 15 persen dalam 24 minggu pertama tetap mengalami penurunan berat badan. Pada kelompok dosis tinggi, mereka rata-rata kehilangan 15,4 persen berat badan setelah 72 minggu.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pasien yang merespons lebih lambat tetap dapat memperoleh manfaat yang bermakna. Evaluasi terapi perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien, manfaat kesehatan, toleransi terhadap pengobatan, serta kemampuan mempertahankan hasil.
Sebagian Besar Berat yang Hilang Berasal dari Lemak
Analisis tambahan terhadap 55 peserta menggunakan pemindaian MRI untuk melihat perubahan komposisi tubuh.
Hasilnya menunjukkan sekitar 84 persen berat yang hilang berasal dari massa lemak. Peneliti juga menemukan penurunan lebih dari 30 persen pada lemak visceral, yakni lemak yang berada di sekitar organ dalam.
Meski terjadi penurunan massa otot, fungsi fisik peserta tetap terjaga berdasarkan sejumlah pengukuran kemampuan tubuh.
Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan terapi tidak cukup dinilai dari angka pada timbangan. Perubahan komposisi tubuh dan kondisi fisik juga menjadi bagian penting dalam mengevaluasi penanganan obesitas.
Efek Samping Tetap Perlu Dipantau
Profil dan Pendidikan Deddy Sitorus, Anggota DPR yang Diduga Sebut Wartawan sebagai Rombongan Sirkus
Terapi dengan dosis tinggi juga memiliki efek samping yang perlu diperhatikan. Keluhan yang paling sering muncul berkaitan dengan sistem pencernaan dan umumnya berada pada tingkat ringan hingga sedang.
Sekitar 3,3 persen peserta pada kelompok dosis tinggi menghentikan pengobatan akibat efek samping gastrointestinal. Pada kelompok dosis pembanding, angkanya sekitar 2 persen.
Karena itu, penggunaan terapi penurunan berat badan tetap perlu dilakukan dengan pemantauan tenaga medis. Kondisi kesehatan, penyakit penyerta, obat lain yang dikonsumsi, serta respons tubuh perlu menjadi pertimbangan.
Angka 27,7 Persen Bukan Hasil Semua Pasien
Hasil studi STEP UP memperlihatkan bahwa respons terhadap terapi obesitas berbeda-beda. Penurunan hingga 27,7 persen secara khusus ditemukan pada kelompok early responders, bukan seluruh pasien.
Secara keseluruhan, peserta yang mendapatkan terapi berbasis GLP-1 RA dosis tinggi mengalami penurunan rata-rata 20,7 persen setelah 72 minggu berdasarkan analisis efikasi.
Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa pasien yang tidak mengalami penurunan berat badan secara cepat tetap berpeluang mendapatkan hasil yang signifikan.
Pada akhirnya, keberhasilan terapi obesitas tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak berat badan yang hilang. Perubahan komposisi tubuh, manfaat terhadap kesehatan, keamanan pengobatan, serta kemampuan mempertahankan hasil dalam jangka panjang juga menjadi faktor penting.










