Viral! Seorang Ayah Menggali Kuburan untuk Mengenalkan Kematian ke Putrinya yang Sakit Keras
JAKARTA - Kisah seorang anak perempuan asal China kembali menjadi perhatian publik setelah perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan akibat penyakit talasemia. Sang ayah bahkan pernah membuat liang kubur untuk putrinya ketika kondisinya sangat kritis. Kini, tempat tersebut justru telah diubah menjadi taman bunga setelah sang anak berhasil melewati masa sakit dan menunjukkan pemulihan yang menggembirakan.
Anak bernama Zhang Xinlei tersebut berasal dari Neijiang, Provinsi Sichuan. Ia diketahui mengalami talasemia berat sejak lahir, yaitu kelainan darah yang membuat penderitanya membutuhkan transfusi secara rutin sepanjang hidup.
Kondisi tersebut juga membuat Xinlei menghadapi berbagai risiko komplikasi kesehatan, termasuk gangguan perkembangan dan masalah pada jantung. Semasa kecil, aktivitasnya pun cukup terbatas. Ia lebih sering bermain sendiri bersama anak anjing peliharaannya atau menghabiskan waktu di sekitar rumah.
Salah satu pilihan pengobatan yang berpotensi menyembuhkan talasemia berat adalah transplantasi sel punca. Namun, tindakan tersebut tidak mudah dilakukan karena pasien membutuhkan donor dengan kecocokan tertentu.
Kondisi ekonomi keluarga Xinlei saat itu juga menjadi persoalan. Ayahnya, Zhang Liyong, bekerja di sebuah pabrik kaca dengan penghasilan sekitar 2.500 yuan atau sekitar Rp5,6 juta per bulan. Sementara itu, biaya pengobatan putrinya selama dua tahun telah mencapai lebih dari 140.000 yuan atau sekitar Rp314 juta.
Pengeluaran tersebut menguras tabungan keluarga. Beruntung, sejumlah warga desa ikut memberikan bantuan untuk meringankan beban biaya pengobatan Xinlei.
Ayah Buat Liang Kubur untuk Putrinya
Pada Juni 2017, Zhang mengambil keputusan yang kemudian menjadi sorotan. Ia menggali sebuah liang kubur di tanah milik keluarganya.
Alih-alih hanya menyiapkannya sebagai tempat pemakaman, Zhang justru mengajak Xinlei berada di dalam liang tersebut. Ia berbaring dan bermain bersama putrinya di sana.
Tindakan tersebut dilakukan karena Zhang ingin putrinya mengenal konsep kematian. Ia juga menyebut tempat itu sebagai "tempat peristirahatan terakhir" bagi Xinlei.
Keputusan tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap kondisi putrinya yang saat itu menderita penyakit berat. Zhang berharap Xinlei tidak terlalu takut menghadapi kematian apabila suatu saat kondisi terburuk benar-benar terjadi.
Sang ibu bahkan memasang sebuah tanda di dekat lokasi tersebut untuk meminta bantuan masyarakat.
Kisah keluarga itu kemudian menyebar luas dan memunculkan berbagai reaksi. Sebagian masyarakat menunjukkan simpati dan meminta pemerintah membantu pengobatan Xinlei. Namun, ada pula pihak yang menganggap tindakan sang ayah bertentangan dengan norma budaya atau mempertanyakan keputusan menjadikan kondisi putrinya sebagai perhatian publik.
Perhatian masyarakat yang semakin besar akhirnya membawa perubahan bagi keluarga tersebut. Penggalangan dana dilakukan dan berhasil mengumpulkan bantuan untuk pengobatan Xinlei. Pemerintah setempat juga disebut menanggung sebagian besar biaya medisnya.
Mendapat Donor dari Adik
Harapan baru muncul ketika adik perempuan Xinlei lahir pada Agustus 2017. Darah tali pusar bayi tersebut kemudian disimpan untuk digunakan sebagai sumber sel punca.
5,5 Juta Buku Bacaan Bermutu Dikirim ke SD dan SMP, Kemendikdasmen Perkuat Literasi Nasional
Xinlei selanjutnya menjalani prosedur transplantasi sel punca yang berasal dari darah tali pusat. Prosedur tersebut berlangsung selama sekitar delapan jam dan menjadi salah satu kesempatan penting untuk mengatasi penyakit yang dideritanya.
Setelah menjalani masa pemulihan yang panjang, kondisi Xinlei menunjukkan perkembangan positif. Hasil pemeriksaan darahnya dilaporkan kembali normal dan ia tidak lagi membutuhkan transfusi darah setiap bulan.
Untuk membantu proses pemulihan, Xinlei tetap menjalani rehabilitasi secara rutin. Biaya rehabilitasi tersebut kemudian ditanggung oleh seorang pengusaha lokal.
Dalam perkembangan selanjutnya, kondisi kesehatan Xinlei dilaporkan terus membaik. Pemeriksaan medis yang dilakukan juga menunjukkan hasil yang baik.
Kini, Xinlei telah tumbuh menjadi seorang siswi sekolah dasar. Berbeda dari masa kecilnya yang dipenuhi perawatan medis, ia kini dapat menjalani kehidupan dengan lebih normal.
Xinlei disebut sebagai anak yang ceria dan memiliki ketertarikan pada aktivitas menggambar serta menari. Ia juga dilaporkan memiliki prestasi akademik yang baik.
Liang Kubur Berubah Jadi "Taman Ajaib"
Tempat yang dahulu dibuat ayah Xinlei sebagai liang kubur kini memiliki cerita yang jauh berbeda.
Orang tua Xinlei mengubah lokasi tersebut menjadi taman yang ditanami bunga matahari. Sang ibu menyebutnya sebagai "taman ajaib" milik Xinlei.
Bagi keluarga tersebut, perubahan fungsi tempat itu menjadi simbol dari perjalanan panjang yang telah dilalui putri mereka. Lokasi yang dahulu dipersiapkan sebagai tempat peristirahatan terakhir kini justru menjadi ruang yang dipenuhi kehidupan dan bunga.
Kisah Xinlei kembali ramai diperbincangkan di dunia maya setelah perkembangan terbarunya diketahui publik. Banyak netizen menyampaikan rasa lega dan berharap kehidupan Xinlei ke depan berjalan lebih baik.
Sejumlah komentar juga menilai kisah tersebut sebagai contoh bagaimana dukungan keluarga, masyarakat, dan bantuan sosial dapat memberikan harapan bagi pasien dengan penyakit berat.
Talasemia sendiri masih menjadi persoalan kesehatan yang cukup besar di China. Berdasarkan laporan resmi pada 2020, hampir 300.000 orang di negara tersebut mengalami talasemia sedang hingga berat.
Sejak 2015, pemerintah China juga telah menjalankan berbagai program pencegahan di sejumlah wilayah berisiko tinggi, terutama di China bagian selatan. Upaya tersebut mencakup skrining prenatal dan pemberian subsidi untuk membantu biaya pengobatan.
Wilayah China selatan diketahui memiliki angka talasemia yang relatif tinggi. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan faktor geografis, iklim, demografi, serta sejarah adaptasi populasi terhadap malaria.









