Bank Sentral Global Ramai-Ramai Borong Emas, Tinggalkan Dolar AS?

Bank Sentral Global Ramai-Ramai Borong Emas, Tinggalkan Dolar AS?

Ekonomi | okezone | Minggu, 12 Juli 2026 - 15:03
share

JAKARTA - Sejumlah bank sentral global memborong emas sebagai upaya mendiversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang dinilai memiliki volatilitas tinggi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hasil survei World Gold Council (WGC) menunjukkan sekitar 45 persen bank sentral di dunia berencana terus menambah cadangan emas mereka.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, tujuan utama bank sentral global memborong logam mulia adalah untuk mendiversifikasi aset cadangan devisa.

"Bank sentral ingin mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat. Selain itu, emas merupakan aset aman yang terbukti mampu mempertahankan nilainya saat terjadi krisis ekonomi maupun ketika inflasi tinggi," ujar Ibrahim, Minggu (12/7/2026).

Ia menjelaskan, bank sentral Tiongkok dilaporkan membeli sekitar 15 ton emas pada Juni 2026. Jumlah tersebut diklaim menjadi rekor pembelian bulanan tertinggi sepanjang 2026. Sementara itu, bank sentral Polandia dilaporkan telah menambah cadangan emas hingga 82 ton selama semester I 2026.

Di sisi lain, Ibrahim menyebut cadangan emas Rusia dilaporkan mengalami penurunan. Kondisi tersebut dikaitkan dengan kebutuhan pembiayaan di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Ukraina, meski klaim tersebut belum disertai data resmi.

Ia menilai kondisi tersebut turut memengaruhi prospek harga emas dunia. Untuk perdagangan sepekan ke depan, harga emas dunia diproyeksikan bergerak pada kisaran level support USD3.906 per troy ounce hingga resistance USD4.348 per troy ounce. Sementara itu, harga logam mulia di dalam negeri diperkirakan berada pada rentang Rp2.570.000 hingga Rp2.800.000 per gram.

Menurut Ibrahim, pembelian emas oleh bank sentral dilakukan sebagai upaya mendiversifikasi aset cadangan devisa. Selain mengurangi eksposur terhadap dolar AS, emas dinilai tetap menjadi instrumen investasi yang mampu mempertahankan nilainya ketika inflasi tinggi maupun saat terjadi gejolak ekonomi global.

"Jadi, dalam sepekan ke depan harga emas dunia kemungkinan bergerak di level support USD3.906 per troy ounce, sedangkan level resistancenya berada di USD4.348 per troy ounce. Untuk logam mulia di dalam negeri, harga diperkirakan bergerak pada level support Rp2.570.000 per gram hingga resistance Rp2.800.000 per gram," pungkas Ibrahim.

Topik Menarik