Rupiah Melemah ke Rp17.667, Pasar Tertekan Sentimen Perang Iran dan The Fed

Rupiah Melemah ke Rp17.667, Pasar Tertekan Sentimen Perang Iran dan The Fed

Ekonomi | okezone | Kamis, 21 Mei 2026 - 15:42
share

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS melemah pada akhir perdagangan hari ini. Rupiah turun 13,5 poin atau sekitar 0,08 ke level Rp17.667 per dolar AS.

Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sentimen datang dari global, yaitu pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut perang Iran berada di "tahap akhir," setelah sebelumnya pekan ini mengatakan pembicaraan berjalan dengan baik. Namun Trump juga memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan memicu lebih banyak aksi militer AS terhadap Iran, sehingga membatasi optimisme pasar secara luas.

“Selat Hormuz sebagian besar tetap tertutup, sehingga harga minyak relatif tetap tinggi meskipun terjadi penurunan tajam awal pekan ini,” tulis Ibrahim, Kamis (21/5/2026).

Iran memperingatkan terhadap serangan lebih lanjut dan mengumumkan langkah-langkah untuk memperkuat kendalinya atas jalur air penting Selat Hormuz, yang sebelum perang mengangkut pengiriman minyak dan gas alam cair setara dengan sekitar 20 persen konsumsi global, tetapi kini sebagian besar telah terganggu. Pada hari Rabu, Iran mengumumkan "Otoritas Selat Teluk Persia" yang baru, dengan mengatakan akan ada "zona maritim terkontrol" di Selat Hormuz.

Iran secara efektif menutup selat tersebut sebagai balasan atas serangan AS dan Israel yang memulai perang pada 28 Februari. Sebagian besar pertempuran telah berhenti sejak gencatan senjata April, tetapi Iran membatasi lalu lintas melalui Hormuz, sementara AS disebut meningkatkan pengawasan di kawasan tersebut.

Kehilangan pasokan dari wilayah Timur Tengah akibat perang telah memaksa negara-negara untuk menarik persediaan komersial dan strategis mereka dengan cepat, menimbulkan kekhawatiran tentang penipisan stok tersebut.

Risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan April yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa mayoritas pejabat Federal Reserve (The Fed) memperingatkan bahwa bank sentral kemungkinan perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga jika inflasi terus berada di atas target 2 persen.

Risalah tersebut menyoroti kekhawatiran yang semakin dalam di antara para pejabat The Fed terkait tekanan inflasi yang dipicu ketidakpastian global. Pada rapat April, FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dana federal dalam kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Dari sentimen domestik, investor cenderung menghindari risiko setelah pemerintah memperketat aturan ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit, batu bara, dan ferro alloy, dengan mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara. Kehati-hatian juga meningkat menjelang data neraca transaksi berjalan kuartal pertama yang akan dirilis Jumat, menyusul defisit kuartal keempat yang didorong oleh kesenjangan harga minyak yang lebih lebar.

Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate dinilai telah dipertimbangkan matang dan merupakan langkah pre-emptive yang terukur untuk merespons dinamika ketidakpastian global. BI berkepentingan menjaga nilai tukar dan stabilitas rupiah. Meskipun langkah ini akan menimbulkan beban tambahan pada biaya pinjaman, kebijakan ini diharapkan dapat melindungi rupiah dari pelemahan yang lebih dalam.

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai instrumen teknis untuk mengendalikan permintaan dan arus keluar modal, tetapi juga menjadi upaya untuk menjaga kepercayaan pasar. Dengan menaikkan suku bunga acuan, Bank Indonesia ingin menegaskan bahwa posisi rupiah tetap dijaga, ekspektasi inflasi terkendali, dan otoritas moneter masih memiliki kendali.

Pemerintah sendiri menyadari risiko yang mungkin timbul. Meskipun kenaikan suku bunga acuan dapat menahan pelemahan rupiah, pada saat yang sama kebijakan ini juga berpotensi mempermahal biaya dana, menekan kredit, mengerem investasi, dan memperberat cicilan dunia usaha maupun rumah tangga.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.660–Rp17.710 per dolar AS.

Topik Menarik