IHSG Turun 2 Persen, Analis Soroti Potensi Tutup Gap 6.100
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merosot tajam pada perdagangan Kamis (21/5/2026).
Pasar saham domestik tertekan oleh kombinasi sentimen negatif mulai dari pelemahan rupiah, arus keluar dana asing akibat rebalancing MSCI dan FTSE, hingga respons pasar terhadap kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) serta arah kebijakan fiskal dan ekspor sumber daya alam (SDA) pemerintah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.28 WIB, IHSG terkoreksi 2,12 persen ke level 6.184,78, mendekati posisi terendah sejak April 2025.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp6,66 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 12,30 miliar saham.
Sebanyak 558 saham bergerak melemah, 167 saham menguat, dan 234 saham lainnya stagnan.
BRI Danareksa Sekuritas menilai pada Kamis (21/5), pergerakan indeks yang kini berada di bawah garis moving average 200 hari atau MA-200 menjadi sinyal bahwa tren bearish masih dominan di pasar saham domestik.
Tekanan jual juga tercermin dari indikator MACD yang kembali melemah dan menunjukkan momentum penurunan masih berlanjut.
Dalam analisisnya, BRI Danareksa menyebut area resistance IHSG berada di level 6.635, sementara support terdekat diperkirakan di 6.220.
Jika tekanan berlanjut, pasar juga mencermati area gap di level 6.100 hingga major support di kisaran 5.900 sebagai titik penting berikutnya.
Dari sisi sentimen, pasar dibebani sejumlah faktor eksternal dan domestik.
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen memicu kekhawatiran terhadap likuiditas dan meningkatnya cost of capital di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
Selain itu, pelemahan saham-saham milik Grup Barito besutan Prajogo Pangestu seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Barito Pacific Tbk (BREN) turut menjadi pemberat utama IHSG dalam beberapa perdagangan terakhir.
Sentimen global juga belum kondusif. Risalah rapat Federal Reserve (FOMC) menunjukkan bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut masih mempertahankan sikap hawkish seiring meningkatnya risiko inflasi akibat konflik Iran.
Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.
Di sisi lain, rupiah yang masih bergerak di kisaran Rp17.600 per USD turut menambah kekhawatiran investor terhadap potensi capital outflow dari pasar keuangan domestik. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.










