Dampak Perang di Iran, Politikus AS Desak Trump Ungkap Program Senjata Nuklir Israel
WASHINGTON – Lebih dari 30 anggota Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (AS) telah menulis surat kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Mereka menuntut agar pemerintahan Trump secara terbuka mengakui program senjata nuklir rahasia Israel.
Israel tidak pernah secara resmi menyatakan keberadaan program tersebut, dan para pejabat AS telah menghabiskan puluhan tahun mempertahankan ambiguitas yang disengaja mengenai senjata pemusnah massal tersebut. Namun, anggota Kongres dari Partai Demokrat yang dipimpin oleh Joaquin Castro, menuntut agar kerahasiaan tersebut diakhiri di tengah perang AS-Israel dengan Iran.
"Kita, dalam arti sepenuhnya, berperang berdampingan dengan negara yang program senjata nuklirnya secara resmi ditolak oleh pemerintah Amerika Serikat," tulis para anggota parlemen pada Selasa (5/5/2026) dalam surat kepada Rubio, sebagaimana dilansir TRT.
Para anggota parlemen mengatakan bahwa AS mengakui kemampuan nuklir banyak negara, baik teman maupun musuh, termasuk Rusia, China, Pakistan, India, Prancis, dan Korea Utara. "Risiko salah perhitungan, eskalasi, dan penggunaan nuklir dalam lingkungan ini bukanlah hal yang teoritis," kata mereka.
"Kongres memiliki tanggung jawab konstitusional untuk sepenuhnya mengetahui keseimbangan nuklir di Timur Tengah, risiko eskalasi oleh pihak mana pun dalam konflik ini, dan perencanaan serta kontingensi pemerintah untuk skenario tersebut. Kami tidak yakin telah menerima informasi tersebut."
Para anggota parlemen mencatat bahwa Iran menargetkan fasilitas nuklir Israel di kota Dimona di bagian selatan selama perang tahun ini. Hal ini memicu pertanyaan kepada Rubio tentang lokasi tersebut, termasuk apakah fasilitas itu memproduksi bahan fisil untuk bom, termasuk plutonium.
"Catatan publik secara kuat dan konsisten mendukung kesimpulan bahwa Israel memiliki senjata nuklir," tulis mereka.
Partai Demokrat mengutip informasi publik yang diungkapkan oleh Mordechai Vanunu, seorang teknisi di Pusat Penelitian Nuklir Negev, yang memberikan bukti program senjata nuklir Israel kepada media Inggris pada 1986. Mereka juga merujuk pada penilaian intelijen AS tahun 1974 yang baru dipublikasikan pada 2008 sebagai bukti keberadaan program tersebut.
Selain itu, mereka menunjuk pada kesaksian dari calon Menteri Pertahanan saat itu, Robert Gates, yang mengonfirmasi selama sidang konfirmasinya bahwa Israel memiliki senjata nuklir saat membahas ambisi Iran.
"Mereka dikelilingi oleh kekuatan-kekuatan yang memiliki senjata nuklir—Pakistan di timur mereka, Rusia di utara, Israel di barat, dan kita di Teluk Persia," kata Gates saat itu.
Para anggota parlemen meminta Rubio untuk memberikan tanggapan paling lambat tanggal 18 Mei.
Status Abu-Abu
Hingga kini, Israel tetap menjadi satu-satunya negara di dunia yang belum mengonfirmasi kepemilikan senjata tersebut secara terbuka.
Pada 2017, Israel memblokir negosiasi tentang Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir dan secara konsisten menolak resolusi Majelis Umum PBB tentang perjanjian tersebut sejak saat itu.
Meskipun sulit untuk menentukan kapan tepatnya Israel memulai program nuklirnya, kemungkinan besar Israel mengembangkannya tak lama sebelum Perang Enam Hari pada tahun 1967 melawan Mesir, Suriah, dan Yordania.
Di sisi lain, sejak awal tahun 1990-an, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa Iran hampir memperoleh senjata nuklir. Namun, Iran telah lama membantah berupaya memperoleh senjata nuklir dan bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil.









