Bahlil Hitung Ulang Anggaran Subsidi Energi Imbas Perang AS-Iran

Bahlil Hitung Ulang Anggaran Subsidi Energi Imbas Perang AS-Iran

Ekonomi | okezone | Selasa, 3 Maret 2026 - 18:29
share

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menghitung ulang porsi anggaran subsidi pasca eskalasi konflik Israel, Amerika Serikat, dan Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, situasi tersebut memberikan dampak pada tersendatnya pasokan minyak RI yang selama ini datangkan dari Timur Tengah, sehingga peralihan negara impor menjadi opsi untuk menjaga ketahanan energi nasional

"Sekalipun informasi disampaikan bahwa ketegangan ini akan selesai dalam waktu 5 hari, ada yang mengatakan 4 minggu. Tapi keyakinan kami setelah kami melakukan kajian, ini tidak akan bisa kita ramalkan kapan selesai. Sekali lagi saya katakan bahwa ketegangan ini tidak bisa kita meramalkan kapan selesai," kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (3/3/2026).

Bahlil menjelaskan, dampak dari eskalasi konflik tersebut mengerek harga minyak mentah dunia yang bahkan telah melampaui dari target APBN. Harga minyak mentah di pasar Asia sendiri melonjak di level USD80-81 per barel, per Senin (2/3/2026).

Sementara asumsi harga minyak dalam APBN, dikatakan Bahlil hanya sebesar USD70 dolar per barel. Selisih harga inilah yang membuat potensi membengkaknya anggaran subsidi energi buntut dari perang Iran melawan AS-Israel.

"Ini yang akan kita harus hati-hati, berdampak pada kenaikan subsidi yang akan ditangguh oleh negara. Tapi di sisi lain dengan kenaikan harga ICP itu juga negara mendapatkan pendapatan. Karena kan kita berkontribusikan kurang lebih sekitar 600 ribu barel sampai 600 ribu lebih barel per day," lanjut Bahlil.

 


Pada kesempatan tersebut Bahlil mengatakan, akan melakukan pengalihan impor untuk minyak mentah dan LPG dari Timur Tengah karena penutupan Selat Hormuz. Sekitar 25 persen total impor Indonesia akan dialihkan dari Timur Tengah ke Amerika Serikat.

"Setelah tadi kita detailing, total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen. Skenario nya adalah, sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika," katanya.

Sementara untuk LPG, Bahlil menjelaskan 30 persen impor LPG Indonesia masih didatangkan dari Timur Tengah. Porsi tersebut akan di datangkan dari negara selain timur tengah untuk memenuhi pasokan LPG nasional.

"LPG kita impor 7,3 juta ton per tahun, dan tahun ini naik menjadi 7,8 juta ton. Sekitar 70 persennya sekarang kita ambil dari Amerika. Alternatifnya adalah kita switch lagi supaya kita tidak mau ambil risiko, sebagiannya kita switch lagi untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan selat Hormuz," pungkasnya.

Topik Menarik