Literasi Keuangan Masih Rendah, Proteksi Jadi Kunci Kelola Keuangan Keluarga
JAKARTA - Di tengah kondisi ekonomi nasional yang relatif resilien, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pengelolaan keuangan dan perlindungan risiko masih tergolong rendah.
Data statistik 2025 menunjukkan, tingkat penetrasi asuransi di Indonesia baru berada di kisaran 3 persen, angka yang mencerminkan masih lebarnya celah proteksi keuangan masyarakat.
Dalam data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS), hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang menunjukkan indeks literasi keuangan mencapai 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan 80,51 persen.
Penetrasi Asuransi
Padahal, pengelolaan keuangan yang sehat tidak hanya soal menabung dan berinvestasi, tetapi juga memastikan adanya perlindungan dari risiko tak terduga seperti kecelakaan, sakit, hingga kerusakan aset. Tanpa proteksi, satu kejadian saja dapat mengguncang stabilitas keuangan rumah tangga.
Melihat kondisi tersebut, platform digital untuk mitra asuransi menilai rendahnya penetrasi asuransi justru menjadi peluang besar untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan.
"Kami melihat potensi yang sangat besar seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya proteksi. Rendahnya penetrasi saat ini adalah peluang bagi kami untuk hadir dengan solusi yang lebih aksesibel melalui teknologi dan pendekatan personal,,” ujar AVP Head of Retail Ignite by Igloo Handry Yunus dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Target Pertumbuhan 2026
Ignite mengumumkan target pertumbuhan ambisius hingga tiga kali lipat pada 2026, sekaligus ekspansi ke luar Pulau Jawa, mulai dari Sumatra hingga Sulawesi.
Pertama, ekspansi regional dengan membuka kantor cabang satelit di kota-kota kunci seperti Pekanbaru, Samarinda, Balikpapan, dan Makassar. Kehadiran fisik ini diharapkan memudahkan edukasi keuangan dan membangun kepercayaan masyarakat di daerah.
Kedua, pemberdayaan Mitra Muda melalui program campus engagement dan kemitraan afiliasi untuk menjaring generasi muda. Langkah ini sejalan dengan upaya menanamkan kebiasaan kelola keuangan sejak dini, termasuk memahami pentingnya proteksi.
Ketiga, penguatan portofolio produk lewat kerja sama dengan perusahaan asuransi terkemuka, khususnya di sektor kendaraan bermotor, properti, dan kesehatan—tiga area yang kerap menjadi sumber risiko finansial terbesar bagi keluarga.










