Pontjo Sutowo Anggap Pernyataan Saiful Mujani Bukan Makar
Ketua Umum Keluarga Besar Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (FKPPI) Pontjo Sutowo buka suara menanggapi pernyataan pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saiful Mujani yang menyinggung upaya untuk menggulingkan Presiden Prabowo Subianto. Menurut Pontjo, apa yang disampaikan Saiful Mujani merupakan bentuk ungkapan pendapat terkait masa depan bangsa, sehingga hal itu tidak boleh diartikan sebagai hal yang lain.
“Seorang Saiful Mujani memberikan pendapatnya bagaimana bangsa ke depan. Pendapat itu tidak boleh diartikan lain,” kata Pontjo saat diwawancarai usai Halalbihalal FKPPI di Griya Ardhya Garini, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (15/6/2026).
Ia menyebut, Saiful Mujani merupakan seorang cendekiawan. Sehingga, sikap yang dilakukan oleh Saiful Mujani tidak bisa serta merta dikategorikan sebagai makar. Apalagi, cendekiawan sendiri memiliki peran penting bagi bangsa Indonesia.
Baca juga: Eks Hakim Agung: Pernyataan Saiful Mujani Penuhi Ciri-ciri Sikap Inkonstitusional
“Peran cendekiawan untuk memerdekakan bangsa ini penting. Tidak boleh itu dikategorikan sebagai satu sikap yang seolah-olah makar. Tidak ada makar itu,” ucap dia.Apalagi, lanjut dia, Indonesia dibangun juga atas partisipasi aktif dari para cendekiawan. Pontjo menilai, para cendekiawan sendiri merupakan bagian dari penggerak masyarakat.
“Indonesia itu dibangun karena partisipasi aktif daripada cendekiawan. Kelompok yang bisa menggerakkan masyarakat dan salah satu penggerak masyarakat itu adalah para cendekiawan,” tutur Pontjo.
Maka itu, para cendekiawan harus lebih aktif memberikan pandangan demi kemajuan bangsa dan tidak bisa diterjemahkan secara sepihak. Terlebih, di tengah situasi zaman yang semakin modern dan majunya dunia digital yang cenderung semu.
“Cendekiawan harus lebih aktif gitu, dan tidak boleh diterjemahkan secara lain. Kita hari ini menghadapi suatu perang modern di mana kita secara digital terpengaruh seolah-olah yang berjuang yang mana jadi tidak jelas,” papar dia.
Sehingga, setiap hal harus bisa dinilai secara objektif dibarengi dengan pikiran yang jernih. “Kita harus mampu secara jernih karena tidak ada bangsa yang bisa maju tanpa daya nalar yang baik,” pungkasnya.










