Panglima TNI Ungkap Alasan Kerahkan Prajurit Besar-besaran ke Jakarta

Panglima TNI Ungkap Alasan Kerahkan Prajurit Besar-besaran ke Jakarta

Terkini | inews | Jum'at, 6 November 2026 - 09:32
share

JAKARTA, iNews.id - Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengungkap alasan di balik pengerahan 20.980 prajurit TNI ke Jakarta pada awal November 2026. Menurutnya, penyiagaan pasukan tersebut merupakan bagian dari sistem kesiapsiagaan TNI untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan ancaman.

Pengerahan pasukan tersebut tercantum dalam Surat Telegram Panglima TNI Nomor STR/96/2026. Dari total prajurit yang disiapkan, sebagian besar berasal dari TNI Angkatan Laut (AL).

Agus mengatakan, TNI memiliki tiga tingkatan kesiapsiagaan, yaitu siaga 3, siaga 2, dan siaga 1. Sistem tersebut diterapkan untuk memastikan kesiapan prajurit dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Adapun, ancaman yang menjadi perhatian TNI terbagi menjadi dua kategori, yakni ancaman alam dan ancaman akibat aktivitas manusia.

"Di dalam internal TNI kita menggunakan istilah siaga. Siaga ini digunakan untuk dalam rangka mempertahankan kedaulatan NKRI dari ancaman, berbagai ancaman yaitu ancaman itu ada dua, ancaman alam dan buatan," kata Agus usai memimpin pemakaman militer Letkol CPN Anumerta Dudi Firmansyah di TMP Cikutra, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (5/11/2026).

Dia merinci, ancaman alam yang diantisipasi mencakup bencana tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, hingga tsunami. Sementara itu, ancaman nonalam akibat ulah manusia meliputi konflik sosial, terorisme, separatisme, dan makar.

Agus menerangkan, masing-masing tingkatan siaga memiliki aturan berbeda mengenai penempatan prajurit dan alutsista. Pada status siaga 3, kondisi masih tergolong aman sehingga prajurit tetap menjalankan aktivitas rutin dan latihan di satuan masing-masing.

"Personel dan alutsista stand by di satuan masing-masing dan prajurit melaksanakan kegiatan rutin latihan di dalam satuan. Kemudian diberlakukan, prajurit tidak boleh keluar kesatrian," tuturnya.

Berbeda dengan siaga 3, status siaga 2 diberlakukan ketika situasi mulai menunjukkan peningkatan kewaspadaan. Pada tahap ini, sekitar setengah hingga tiga perempat kekuatan prajurit dan alutsista dipersiapkan untuk menempati pos yang telah ditentukan.

Siaga 1 merupakan tingkat kesiapsiagaan tertinggi ketika eskalasi ancaman meningkat. Pada kondisi tersebut, prajurit dan alutsista telah ditempatkan di pos masing-masing dan tidak diperkenankan meninggalkan kesatrian.

"Personel dan alutsistanya sudah disiagakan dan masuk ke pos masing-masing. Tentunya personel, atau prajurit tidak boleh keluar kesatrian. Itu yang biasa dilakukan oleh internal TNI," ucap Agus.

Dia menambahkan, penerapan status siaga tidak ditentukan berdasarkan jangka waktu tertentu. Penyesuaian tingkat kesiapsiagaan bergantung pada perkembangan kondisi di lapangan. Jika situasi telah kembali kondusif, status siaga dapat diturunkan secara bertahap.

"Siaga itu tidak ada waktu. Jadi lihat situasi sudah kondusif, baru kita siaga 1, kita menurutkan siaga 2 dan siaga 3," kata dia.

Terkait kemungkinan adanya ancaman khusus yang melatarbelakangi pengerahan puluhan ribu prajurit ke Jakarta, Agus menyebut kesiapsiagaan serupa diterapkan di berbagai wilayah. Langkah ini dilakukan agar pasukan dan alutsista selalu siap menghadapi potensi gangguan maupun keadaan darurat.

Selain ancaman keamanan, TNI juga memperhitungkan potensi bencana alam, terutama memasuki periode musim hujan.

"Kita selalu mengantisipasi setiap wilayah, kita berlakukan siaga tersebut supaya kesiapsiagaan personel dan alutsista tetap terjaga. Makanya kita melakukan siaga terus," tuturnya.

Topik Menarik