Malaysia Dinilai Langgar Kesepakatan SEA Games 2027, PB PODSI Desak Pemerintah Layangkan Protes

Malaysia Dinilai Langgar Kesepakatan SEA Games 2027, PB PODSI Desak Pemerintah Layangkan Protes

Olahraga | inews | Selasa, 3 November 2026 - 22:28
share

JAKARTA, iNews.id – Malaysia dinilai tidak menjalankan kesepakatan terkait cabang olahraga SEA Games 2027 setelah dayung dicoret dari daftar pertandingan. Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB PODSI) mendesak pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) segera mengajukan nota keberatan resmi.

PB PODSI menyoroti kesepakatan yang telah dibuat sejak 31 Mei 2024 dalam sidang Southeast Asian Games Federation (SEAGF). Saat itu, Komite Olimpiade Nasional (NOC) Thailand, Malaysia, dan Singapura menyepakati cabang olahraga untuk SEA Games 2025, 2027, dan 2029 sesuai negara tuan rumah masing-masing.

Namun, PB PODSI menilai Malaysia tidak menjalankan kesepakatan tersebut. Dayung yang mencakup tiga disiplin, yakni rowing, canoeing, dan traditional boat race, justru tidak masuk dalam daftar pertandingan SEA Games 2027.

Keputusan tersebut disahkan dalam sidang SEAGF di Bangkok, Thailand, pada 30 Oktober 2026. Sebanyak 43 cabang olahraga dengan total 473 nomor pertandingan ditetapkan untuk SEA Games Malaysia 2027 yang berlangsung pada 18-29 September.

Selain dayung, enam cabang olahraga lainnya juga tidak masuk daftar pertandingan. Keenamnya adalah gulat, kickboxing, jujitsu, selancar, catur, dan bola tangan.


PB PODSI Ungkit Kesepakatan 2024 dan Upaya Lobi ke Malaysia

PB PODSI mengungkapkan berbagai upaya telah dilakukan untuk mempertahankan dayung dalam SEA Games 2027. Langkah tersebut bahkan melibatkan federasi internasional dan organisasi olahraga tingkat Asia.

Federasi internasional rowing dan canoeing sebelumnya telah mengirimkan surat kepada NOC Malaysia. Surat tersebut menjadi bagian dari upaya memperjuangkan keberadaan dayung dalam pesta olahraga Asia Tenggara.

Presiden Asian Canoe bersama timnya juga telah mengunjungi NOC Malaysia dan Sports Council Malaysia di Kuala Lumpur. Pertemuan tersebut dilakukan untuk membahas persoalan pencoretan dayung dari SEA Games 2027.

Selain komunikasi antarfederasi, dukungan pembinaan juga telah diberikan kepada atlet Malaysia. Tim rowing dan canoeing negara tersebut mendapatkan dukungan pemusatan latihan di Thailand, Indonesia, dan China.

Sayangnya, berbagai upaya tersebut belum membuahkan hasil. Dayung tetap tidak masuk dalam daftar final cabang olahraga yang disahkan SEAGF pada 30 Oktober 2026.

PB PODSI menyayangkan keputusan tersebut karena dayung merupakan cabang olahraga Olimpiade yang memiliki tempat dalam berbagai kompetisi internasional.

"Dayung adalah cabor Olimpiade yang dipertandingkan di semua multievent internasional. Sangat disayangkan tuan rumah Malaysia tidak mengakomodasi cabor yang menjadi kekuatan merata negara-negara ASEAN," demikian pernyataan PB PODSI, dikutip Selasa (3/11/2026).


Indonesia Kehilangan Peluang Medali

Pencoretan dayung dari SEA Games 2027 dinilai merugikan Indonesia. Pasalnya, cabang olahraga tersebut selama ini menjadi salah satu penyumbang medali emas bagi kontingen Merah Putih.

Pada SEA Games 2015 di Singapura, Indonesia mengoleksi 13 medali emas, tiga perak, dan tiga perunggu dari dayung. Prestasi tersebut berlanjut pada SEA Games 2019 di Filipina dengan raihan 10 emas, empat perak, dan tiga perunggu.

Tim dayung Indonesia kemudian meraih 14 emas, 14 perak, dan tiga perunggu pada SEA Games 2021 di Vietnam. Sementara pada SEA Games 2023 di Kamboja, Indonesia membawa pulang tiga emas, satu perak, dan empat perunggu.

Pada SEA Games 2025 di Thailand, dayung kembali menyumbangkan sembilan emas, sembilan perak, dan tujuh perunggu. Catatan tersebut memperlihatkan besarnya kontribusi cabang olahraga ini terhadap perolehan medali Indonesia.

Jika dihitung dari lima edisi tersebut, dayung Indonesia telah menyumbangkan total 49 medali emas. Hilangnya cabang olahraga ini pada SEA Games 2027 membuat peluang Indonesia menambah koleksi medali semakin terbatas.

PB PODSI juga mengkhawatirkan dampaknya terhadap target kontingen Merah Putih untuk menempati dua besar klasemen akhir SEA Games 2027. Terlebih, dayung merupakan salah satu cabang yang konsisten memberikan kontribusi medali.

Dampak lainnya dirasakan para atlet pelatnas yang telah menjalani persiapan sejak 2025. Mereka dipersiapkan menghadapi rangkaian kompetisi internasional, mulai dari SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade.

Absennya SEA Games 2027 membuat para atlet kehilangan salah satu kesempatan bertanding di tingkat regional. PB PODSI khawatir keputusan tersebut memengaruhi motivasi atlet, kesinambungan program latihan, dan regenerasi.

Karena itu, PB PODSI meminta Kemenpora RI dan NOC Indonesia segera menyampaikan nota keberatan resmi kepada SEAGF dan Olympic Council of Malaysia (OCM). Langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang peninjauan kembali keputusan pencoretan dayung.

Meski menghadapi persoalan tersebut, PB PODSI memastikan program pemusatan latihan nasional tetap berjalan. Fokus utama pembinaan diarahkan pada persiapan menuju kualifikasi Olimpiade Los Angeles 2028.

Federasi juga berharap masyarakat Indonesia terus memberikan dukungan kepada atlet dayung. Semangat dan motivasi para atlet dinilai penting untuk menjaga kesinambungan prestasi di tengah hilangnya salah satu ajang kompetisi regional.

"Dayung adalah kebanggaan Merah Putih. Hilangnya dayung di SEA Games 2027 bukan hanya kehilangan medali, tapi kehilangan marwah prestasi," tutup pernyataan PB PODSI.

Topik Menarik