Pemilu Israel, Peneliti: Netanyahu Kalah Belum Tentu Hadirkan Perdamaian di Palestina

Pemilu Israel, Peneliti: Netanyahu Kalah Belum Tentu Hadirkan Perdamaian di Palestina

Terkini | inews | Jum'at, 30 Oktober 2026 - 03:07
share

KHAN YOUNIS, iNews.id - Pergantian pemerintahan di Israel berpotensi memengaruhi kebijakan terhadap Palestina, mulai dari penyaluran bantuan kemanusiaan dan gencatan senjata di Jalur Gaza hingga tekanan terhadap Otoritas Palestina di Tepi Barat. Namun, peneliti memperingatkan kemenangan oposisi tidak serta-merta membawa perubahan besar menuju perdamaian.

Peneliti Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (ECFR), Beth Oppenheim, menilai pemerintahan Israel yang dipimpin tokoh oposisi Gadi Eisenkot berpotensi membatasi pengaruh kelompok sayap kanan yang mendukung perluasan permukiman Yahudi di wilayah Palestina.

Pemerintahan baru juga berpeluang mengurangi tekanan terhadap Otoritas Palestina serta mengambil pendekatan yang lebih fleksibel dalam persoalan bantuan kemanusiaan dan gencatan senjata di Gaza.

Meski demikian, Oppenheim mengingatkan agar warga Palestina tidak menaruh harapan terlalu tinggi terhadap pergantian kepemimpinan di Israel.

"Tidak akan ada perubahan besar," katanya, seperti dikutip dari AFP, Jumat (30/10/2026).

Dia menambahkan, pergantian pemerintahan tidak akan secara otomatis menghasilkan pergeseran besar dalam prospek pembentukan negara Palestina maupun proses perdamaian dengan Israel.

Warga Palestina Skeptis terhadap Pemilu Israel

Keraguan terhadap dampak pemilu Israel juga disampaikan warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Mereka menilai siapa pun yang memenangkan kontestasi politik tersebut belum tentu mengubah kebijakan Israel terhadap Palestina.

Huda Al Houli, pengungsi yang tinggal di Khan Younis, Gaza, bahkan khawatir pemilu tersebut justru menghasilkan pemimpin yang lebih buruk daripada Benjamin Netanyahu.

"Kami khawatir pemilu ini akan menghasilkan pemimpin yang lebih buruk," kata Huda kepada AFP.

Menurut dia, hasil pemilu berpotensi membawa lebih banyak kehancuran dan penderitaan bagi warga Palestina.

Pandangan serupa disampaikan Ahmed Awad, warga Ramallah berusia 67 tahun. Dia meragukan pergantian politisi akan menghasilkan perubahan mendasar dalam konflik Palestina-Israel.

"Apa pun hasilnya, bahkan jika politisi berubah, saya rasa tidak akan ada perubahan radikal atau dramatis dalam kebijakan terhadap konflik Palestina-Israel," ujarnya.

Sementara itu, Abdallah Abu Rahma, warga Tepi Barat berusia 54 tahun, berharap oposisi Israel memenangkan pemilu dan mengubah kebijakan, terutama terkait operasi militer di wilayah Palestina.

Dia menilai pemerintahan baru berpeluang membawa situasi yang lebih baik dibandingkan pengalaman warga Palestina dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, jika Netanyahu tetap berkuasa, Abdallah memperkirakan koalisi yang dibentuknya akan melanjutkan pendekatan kebijakan yang sama.

Topik Menarik