Kepala BGN Akui Beban Emosional Terberat 100 Hari Kerja Lihat Anak Keracunan MBG: Hancur Hatiku
JAKARTA, iNews.id – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengaku hancur hati setiap kali mendengar anak-anak jatuh sakit akibat keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dia menyebut kondisi tersebut menjadi beban emosional terberat selama 100 hari pertama memimpin BGN.
Kepala BGN mengatakan, dirinya tidak sanggup melihat anak-anak yang seharusnya mendapat manfaat dari program MBG justru mengalami gangguan kesehatan. Kekhawatiran itu juga dirasakannya sebagai seorang kepala keluarga.
"Selama saya jadi Kepala BGN 100 hari ini, adalah aku enggak bisa lihat orang sakit karena MBG. Hancur hatiku," kata Sudaryono dalam acara evaluasi MBG di Usmar Ismail Hall, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Dia menegaskan, keamanan pangan harus menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program MBG. BGN pun memantau indikator keamanan pangan internasional melalui Index Per Million Serving (IPMS), yakni rasio insiden sakit per satu juta porsi makanan.
Lini Depan Timnas Indonesia Tampil Melempem saat Lawan Malaysia, Begini Komentar John Herdman
Berdasarkan data pembanding yang dipaparkan, angka IPMS di Amerika Serikat tercatat 0,1 kasus per satu juta porsi, Jepang sekitar satu kasus, dan Uni Eropa 1,3 kasus. Sementara itu, angka Indonesia yang sempat mencapai 5,3 pada Januari 2025 disebut turun menjadi 3,9 pada periode Januari–Juli dan 3,6 pada Juli–Oktober.
"Skor kita saat ini masih di kisaran 3,6 dan itu relatif tinggi, sehingga kami menargetkan bisa mencapai level nol seperti di Amerika tanpa ada satu anak pun yang sakit," kata Sudaryono.
Menurutnya, pengendalian waktu dan suhu pengolahan menjadi faktor penting untuk mencegah makanan terkontaminasi bakteri. Makanan yang berada terlalu lama pada suhu yang tidak aman berisiko mengalami kerusakan dan membahayakan kesehatan penerima manfaat.
Sudaryono mencontohkan kasus di Karo, ketika ikan mentah dilaporkan dibiarkan pada suhu ruangan selama lebih dari 12 jam karena kapasitas lemari pembeku tidak mencukupi.
"Makanan itu intinya hanya urusan waktu dan suhu, jika dibiarkan terlalu lama di rentang lima sampai enam puluh derajat pasti basi dan meracuni orang," ucapnya.
Festival Musik Semakin Marak, Legislator Golkar: Perkuat Daya Tarik Jakarta di Mata Internasional
Untuk mencegah kejadian serupa, BGN juga mengambil tindakan terhadap dapur penyedia MBG yang tidak memenuhi standar kebersihan dan sanitasi. Sudaryono menyebut lebih dari 2.000 dapur telah ditutup permanen karena melanggar ketentuan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Dia menyoroti sejumlah fasilitas yang dinilai tidak layak, termasuk dapur yang dibangun di dekat kandang babi maupun di bawah sarang burung walet. BGN juga menindaklanjuti dugaan pemalsuan dokumen SLHS dengan membawa persoalan tersebut ke ranah pemeriksaan kepolisian.
"Punya sertifikat sanitasi saja belum tentu layak apalagi yang tidak punya, maka seluruh dapur yang melanggar dan memalsukan izin langsung kami tutup permanen," kata Sudaryono.
Sudaryono menegaskan, pembenahan standar keamanan pangan menjadi bagian penting dalam evaluasi pelaksanaan MBG. Targetnya, program tersebut dapat berjalan tanpa menimbulkan korban sakit akibat makanan yang disajikan.









