Ribuan Balita Terpapar ISPA akibat Kabut Asap, Menkes Budi Gunadi Minta Warga Tak Panik

Ribuan Balita Terpapar ISPA akibat Kabut Asap, Menkes Budi Gunadi Minta Warga Tak Panik

Terkini | inews | Senin, 26 Oktober 2026 - 18:01
share

JAKARTA, iNews.id - Ribuan balita terpapar Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah merebaknya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tetap tenang karena sebagian besar kasus ISPA dapat ditangani dengan rawat jalan tanpa harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Budi menjelaskan, pasien ISPA dapat memperoleh obat dan menjalani perawatan di rumah setelah mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas. Karena itu, masyarakat tidak perlu langsung panik ketika mengalami gejala infeksi saluran pernapasan.

"Teman-teman juga mesti tahu, ya, bahwa ISPA itu bukan penyakit yang masuk rumah sakit. Itu penyakit infeksi saluran pernapasan, bisa dikasih obat, kemudian pulang. Jadi, rawat jalan, ya," kata Budi, Senin (26/10/2026).

Dia mengungkapkan, berdasarkan pemantauan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah kumulatif kasus ISPA di wilayah terdampak kabut asap sempat mencapai sekitar 320.000 kasus. Meski demikian, tren kasus harian dilaporkan mengalami penurunan dibandingkan periode awal peningkatan kasus.

"Yang saya monitor data hariannya karena kumulatifnya juga kemarin 320.000, ya, tapi hariannya itu sebelumnya di awal-awal tuh 12.000, 13.000. Kemarin saya lihat 3.500-an per hari. Nah, itu ada 10, 15 itu anak-anak yang kita lihat," ujarnya.

Penurunan tersebut terlihat dari jumlah kasus harian yang sebelumnya berkisar 12.000 hingga 13.000 kasus, kini menjadi sekitar 3.500 kasus per hari. Dari jumlah kasus harian yang dipantau, sekitar 10-15 persen di antaranya merupakan anak-anak.

Meski tren kasus menurun, Kemenkes tetap mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti bayi, balita, dan anak-anak. Masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan atau gejala infeksi yang tidak kunjung membaik diminta mendapatkan penanganan medis.

"Kalau kemudian ada infeksi batuk-batuk yang enggak sembuh, itu mesti dikasih obat. Dan obatnya itu sebenarnya di puskesmas bisa karena ini rawat jalan, ya," katanya.

Untuk memastikan pengobatan tersedia di daerah terdampak, Kemenkes telah mendistribusikan sekitar 500.000 paket obat-obatan ke berbagai fasilitas kesehatan. Pemerintah berencana menambah distribusi sebanyak 500.000 paket sehingga total pasokan yang disiapkan mencapai sekitar 1 juta paket.

Selain obat-obatan, pemerintah juga memastikan ketersediaan oksigen di puskesmas yang berada di wilayah dengan tingkat dampak kabut asap tinggi atau zona hitam. Langkah ini dilakukan untuk mendukung penanganan pasien yang mengalami gangguan pernapasan.

"Oksigen kita akan penuhin seluruh puskesmas di daerah hitam. Kemudian untuk yang obat-obatan sudah kita kirim 500.000 paket, kita akan kirim lagi 500.000 paket," ucap Budi.

Budi berharap distribusi obat-obatan, kesiapan fasilitas kesehatan, serta hujan yang turun di sejumlah wilayah dapat membantu memperbaiki kualitas udara dan memulihkan kondisi kesehatan masyarakat.

Masyarakat juga diimbau tetap waspada terhadap paparan kabut asap, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang memburuk, terutama pada bayi dan balita.

Topik Menarik