Anggota DPR Gandeng Mendikdasmen, Perangi Bullying dan Kekerasan Anak

Anggota DPR Gandeng Mendikdasmen, Perangi Bullying dan Kekerasan Anak

Terkini | inews | Senin, 26 Oktober 2026 - 18:13
share

JAKARTA, iNews.id - Anggota DPR Ahmad Doli Kurnia menemui Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti. Pertemuan dilakukan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mencegah perundungan (bullying) dan kekerasan terhadap anak.

Doli turut memperkenalkan ADK Movement, gerakan yang diinisiasinya sebagai respons atas meningkatnya laporan kekerasan terhadap anak yang saat berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia dalam setahun terakhir.

"Saya ini bersama dengan teman-teman ini, diterima oleh Pak Menteri Pendidikan Dasar Menengah dalam konteks membicarakan tentang kekerasan yang terjadi beberapa waktu belakangan ini terhadap anak, bullying dan kekerasan," kata Doli di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Legislator Partai Golkar itu menilai perundungan dan kekerasan, baik fisik maupun psikis, dapat berdampak panjang terhadap tumbuh kembang anak. Menurutnya, trauma yang dialami anak berpotensi memengaruhi kondisi mental dan masa depan mereka.

"Wajah masa depan Indonesia itu ada di anak-anak kita itu. Jadi, kalau anak-anak kita ini sekarang nanti menjadi trauma atau kemudian pemurung, mentalnya rusak, itu akan mempengaruhi masa depan Indonesia," ucap dia.

Doli menekankan, upaya mencegah dan menangani kekerasan terhadap anak tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau satu kementerian. Diperlukan koordinasi lintas sektor agar perlindungan terhadap anak dapat dilakukan secara menyeluruh.

Bersama ADK Movement, dia berencana melanjutkan komunikasi dengan sejumlah kementerian, yakni Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, serta Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).

Doli kembali mengingatkan tanggung jawab memutus rantai kekerasan terhadap anak tidak hanya berada di tangan pihak sekolah. Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat juga memiliki peran penting dalam membentuk perilaku dan memberikan perlindungan kepada anak.

"Ini bukan hanya tanggung jawab sekolah, tapi tanggung jawab kita semua, termasuk keluarga. Saya mengimbau seluruh orang tua di Indonesia untuk bersama-sama menjaga anak-anak kita. Jangan sampai mereka menjadi korban, dan jangan sampai mereka menjadi pelaku kekerasan," pungkas Doli.

Menanggapi inisiatif tersebut, Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengapresiasi pembentukan ADK Movement. Dia menilai persoalan kekerasan terhadap anak harus ditangani secara humanis, edukatif, dan komprehensif dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Kemendikdasmen, kata Mu'ti, telah merancang kebijakan bertajuk Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang melindungi peserta didik.

"Kami ingin agar sekolah dapat menjadi rumah kedua bagi anak-anak. Menjadi tempat belajar tidak hanya ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga nilai-nilai kebaikan di mana mereka merasa terlindungi oleh para guru dan aman bersama teman sebayanya," tutur Mu'ti.

Mu'ti menambahkan, pelaksanaan kebijakan tersebut akan didukung pembentukan kelompok kerja (pokja) secara struktural dengan melibatkan pemerintah daerah.

Dia juga menegaskan, kekerasan yang terjadi di luar lingkungan sekolah tetap perlu mendapat perhatian bersama. Sebab, dampaknya dapat terbawa ke sekolah dan memengaruhi interaksi anak dengan teman sebaya maupun guru.

Topik Menarik