Kekayaan 3 Orang Terkaya Indonesia Menguap Rp106,4 Triliun usai Isu MSCI Guncang Pasar Saham
JAKARTA, iNews.id - Kekayaan tiga konglomerat terkaya Indonesia, Robert Budi Hartono, Prajogo Pangestu, dan Low Tuck Kwong, menyusut sekitar 5,9 miliar dolar AS atau Rp106,4 triliun (kurs Rp18.045 per dolar AS) hanya dalam dua hari perdagangan.
Penurunan ini terjadi setelah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan peringatan terkait kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market.
Melansir Billionaires Africa, peringatan tersebut memicu aksi jual besar-besaran di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,6 persen pada perdagangan Jumat (16/10/2026) sekaligus penurunan harian terbesar sejak krisis keuangan Asia pada 1998, dan menghapus sekitar 65 miliar dolar AS dari kapitalisasi pasar.
IHSG kembali melemah 3,6 persen pada perdagangan Senin (19/10/2026) hingga menyentuh level terendah dalam enam tahun. Menurut Reuters, penurunan selama dua hari tersebut bahkan melampaui kejatuhan pasar pada 1998.
Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons gejolak tersebut dengan memangkas batas penurunan harga saham harian dari 15 persen menjadi 7 persen. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah melemah hingga Rp18.030 per dolar AS.
Kekayaan 3 Konglomerat Indonesia Tergerus
Menurut data Forbes, kekayaan Robert Budi Hartono pengusaha di sektor rokok, turun menjadi 12,4 miliar dolar AS (setara Rp223 triliun) pada Senin, dari 15,5 miliar dolar AS (setara Rp279 triliun) sebelum aksi jual. Dengan demikian, kekayaannya berkurang sekitar 3,1 miliar dolar AS (setara Rp55 triliun).
Sementara itu, Prajogo Pangestu, konglomerat yang memiliki bisnis di sektor kehutanan, energi, dan petrokimia, kehilangan sekitar 2,2 miliar dolar AS (Rp39 triliun). Adapun, Low Tuck Kwong, miliarder kelahiran Singapura yang dikenal sebagai raja batu bara Indonesia, kehilangan sekitar 600 juta dolar AS (Rp10 triliun).
Ketiganya telah mengalami penurunan kekayaan sepanjang tahun ini. Pada akhir 2025, Forbes memperkirakan kekayaan Robert mencapai sekitar 21,4 miliar dolar AS, Prajogo sebesar 39,5 miliar dolar AS, dan Low mencapai 22,3 miliar dolar AS.
Penurunan tersebut terjadi ketika pasar saham Indonesia mengalami tekanan tajam. Saham-saham Indonesia mencatat kinerja terburuk dibandingkan pasar saham negara lain dalam periode yang disebutkan sumber.
Low dan putrinya juga baru-baru ini menjual 30,25 persen saham di perusahaan batu bara PT Bayan Resources Tbk kepada perusahaan milik konglomerat lokal, Andi Syamsuddin Arsyad atau akrab disapa Haji Isam.
Mengapa MSCI Soroti Pasar Saham Indonesia?
Adapun, persoalan utama yang disoroti MSCI adalah transparansi kepemilikan saham. MSCI menilai aturan pengungkapan pemegang saham berpotensi membuat pemilik sebenarnya suatu perusahaan tercatat sulit diketahui, sehingga mengurangi transparansi dan meningkatkan risiko transaksi yang tidak semestinya.
Sejumlah perusahaan terbuka di Indonesia memiliki kepemilikan saham yang terkonsentrasi pada pendiri, keluarga, atau kelompok usaha tertentu. Kondisi tersebut membatasi jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan secara bebas di pasar.
MSCI menyatakan masih terdapat kekhawatiran signifikan terkait gangguan pasar, termasuk dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi yang terus berlanjut dan belum adanya bukti penegakan aturan yang memadai.
Setelah peringatan tersebut, regulator keuangan Indonesia mengumumkan sanksi berupa denda dengan total Rp2,1 triliun terhadap pihak-pihak yang dikaitkan dengan dugaan manipulasi saham tiga perusahaan. The Business Times melaporkan perusahaan-perusahaan tersebut memiliki kaitan dengan Prajogo dan kelompok usaha Sinar Mas milik keluarga Widjaja.
BEI juga menyatakan akan mengeluarkan perusahaan dengan kepemilikan sangat terkonsentrasi dari indeks acuan. IHSG kemudian sempat memulihkan sebagian penurunannya pada perdagangan Selasa pagi.
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia semakin besar karena prospek peringkat kredit negara juga menghadapi tantangan. Moody's dan Fitch sebelumnya telah mengubah prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif.
Jika MSCI benar-benar menurunkan status Indonesia menjadi standalone market, saham Indonesia akan dikeluarkan dari indeks utama MSCI. Perubahan tersebut berpotensi memaksa dana investasi pasif yang mengikuti indeks menjual saham Indonesia.
Indonesia juga akan masuk ke kelompok pasar yang mencakup negara-negara seperti Argentina, Lebanon, Palestina, Ukraina, dan Zimbabwe.
MSCI akan menerima masukan hingga akhir April 2027 dan mengumumkan keputusan paling lambat 30 Juni 2027. Strategis Goldman Sachs menilai Indonesia perlu menunjukkan bukti nyata bahwa reformasi yang diumumkan benar-benar diterapkan secara konsisten agar terhindar dari penurunan status.
Konglomerat Indonesia Ekspansi ke Luar Negeri
Di tengah gejolak pasar domestik, sejumlah konglomerat Indonesia juga mengembangkan bisnis dan menempatkan investasi di luar negeri.
Bloomberg melaporkan pada September bahwa keluarga Hartono telah menginvestasikan sedikitnya 1,4 miliar dolar AS di luar negeri, meski sebagian besar aset mereka masih berada di Indonesia.
Sementara itu, Barito Renewables Energy milik Prajogo pada Juli menawarkan 5 miliar dolar AS untuk mengakuisisi Energy Development Corp, perusahaan panas bumi terbesar di Filipina.
Pada Agustus, Chandra Asri Pacific juga menyepakati pembelian bisnis dealer otomotif milik Jardine Cycle & Carriage di Malaysia dan Singapura senilai 208 juta dolar AS, menurut laporan Forbes.










